27 Desember 2008

Narasi Singkat

oleh: Mendung


Percayakah kamu pada skenario yang dibuat oleh alam? Ketika semua hal yang terjadi seakan mengisyaratkan sesuatu tanpa menyisakan sedikit pun ruang bagimu untuk memilih.

Aku bertanya-tanya tentang kejadian hari ini. Saat kalender yang menghiasi dinding kamar hanya tersisa lembarannya yang terakhir.

Akibat kerobohanku hari ini, segala cerita dan memori yang tersisa lenyap begitu saja. Semua hal yang tidak disengaja yang menjadi bagian dari skenario kehidupan yang lama, seakan meminta untuk digantikan oleh skenario lain yang terbaru.

Mungkinkah ini sebuah pertanda..
untuk melupakanmu?

Selamat tahun baru
Semoga menemukan yang baru
Desember 2008

26 Desember 2008

Laut

oleh: Pelangi


Kakakku pernah mengatakan, laut dan pantai telah menjadi bagian dari diriku. Mungkin karena hampir sepanjang masa kecilku kuhabiskan untuk menghirup udara laut dan merasakan jemari kakiku melesak dalam butiran pasir putihnya.

Namun waktu tak membiarkanku terus menerus berada di sisinya. Sedikit demi sedikit aku menjauh darinya, dan mulai melupakannya.

Baru beberapa tahun belakangan ini aku mulai kembali berdekatan dengan teman masa kecilku ini. Waktu memang kejam, ia membuatku merasa canggung berhadapan kembali dengannya. Seakan aku baru kali pertama bertemu dengannya.

Aku sedikit takut. Aku merasa tak menemukan dirinya yang dulu kukenal dalam dirinya yang sekarang. Mungkin juga karena aku hanya mengingat separuh dari sifatnya ketika aku kecil dulu, sisi lembutnya. Sedangkan sisi lain dalam dirinya tidak terekam sedikit pun dalam ingatanku.

Begitu kerasnya kehidupan di laut, dan ia membagi sifatnya itu pada orang-orang yang tiap hari harus bergelut dengannya.

Menghadapimu, yang kutahu, tidak akan pernah cukup seorang diri. Pelajaran tentang tolong menolong yang sesungguhnya diajarkan olehmu. Bahkan jika tenaga manusia telah tergantikan oleh mesin-mesin canggih sekalipun.

Sifat kerasmu ini membuatku bergidik kadang-kadang.

Namun pada akhirnya aku mengetahui bagaimana mengertimu.

Hanya dalam sikap yang tenang aku dapat berkomunikasi denganmu, yang kadang mengejutkanku dengan bergemuruh sedemikian rupa hingga menelan segalanya. Namun, pada detik berikutnya kau layaknya teman bermain yang manis bagi seorang balita.

Dan karena aku harus belajar lebih banyak tentang sikap tenang ini,
kamu harus menungguku terlebih dahulu.
Aku harap kau bisa memaklumiku,
Laut...

(dalam tekanan tes menyelam^^)

12 Desember 2008

Sajak Jatuh Hati

oleh: Kucing Liar


Ayo Pertiwi, kita bernyanyi

Melantunkan riang simfoni di antara sejuk embun pagi, mengalirkan nada murni dalam wajahmu nan menawan hati
Kesedihan dan kesulitan hanyalah nisbi dalam hati, usah ada getar dan air mata mengotori

Pertiwi, mari kita menari

Diiringi alunan melodi kicau burung merpati, bergerak harmoni dalam hangat tujuh warna matahari

Tersenyumlah Pertiwi,
Karena indah hampar mutu manikam yang membentang sepanjang negeri
Karena limpah karunia sang Hyang yang tidak pernah pantas untuk dipungkiri

Tersenyumlah, elok rona parasmu terlalu indah untuk sembunyi

Tidak perlu semua kegundahan hati
Putramu telah berjanji untuk berbakti

05 Desember 2008

Hal Kecil? Atau Hal Mendasar?

oleh: Dhika Rahmat


Pendidikan nasional berdasarkan asas Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi manusia agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara.

Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Demikianlah beberapa kutipan tentang pendidikan nasional. Di benak saya muncul pertanyaan besar,"Kenapa hal seperti ini baru saya dan banyak teman saya ketahui saat sudah menjadi mahasiswa? Tidakkah itu terlambat?"

Saya pikir, itu adalah hal yang sangat penting dipahami-tidaksekedar dihafal-oleh semua pelaku pendidikan, baik peserta didik maupun pendidikan karena hal tersebut merupakan tujuan yang mutlak harus dicapai. Dari tujuan tersebut sebenarnya bisa terjawab berbagai pertanyaan yang sering terlontar. Kita ambil contoh di kampus, sering kali muncul pertanyaan klise tentang tujuan berorganisasi. Bila kita sepakat bahwa berorganisasi merupakan juga salah satu proses pendidikan, maka konsepsi KM ITB yang kita anut sangatlah relevan. Disana tertera tujuan organisasi yang selaras dengan tujuan pendidikan nasional. Bila kita turunkan lagi, maka seharusnya kitapun mendapatkan jawaban akan pertanyaan peranan yang seharusnya dilakukan mahasiswa baik dalam lingkup kampus maupun masyarakat umum. Sebuah sifat dasar yang harus kita miliki-juga tertera di konsepsi-adalah insan akademis, yang selalu mengembangkan diri sehingga menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan dan juga selalu mengikuti watak ilmu untuk mencari dan membela kebenaran ilmiah sehingga akan mampu mengkritisi kondisi kehidupan masyarakat di masa kini dan selalu berupaya membentuk tatanan masyarakat masa depan yang benar dengan dasar kebenaran ilmiah. Jika kita memegang teguh dan menjalankan sifat itu dengan baik, maka seharusnya kita tidak perlu bingung terhadap bagaimana mahasiswa seharusnya. Dari hal itu, secara logis akan bisa kita turunkan sampai kita dapat menemukan relevansi dari dogma-dogma PFP (Peran Fungsi dan Posisi). Namun ternyata permasalahan tidak selesai saat kita berhasil menemukan relevansi tersebut. Buktinya, perkembangan di dunia kemahasiswaan kita bisa dikatakan belum signifikan. Kita juga perlu mempertanyakan sudah sejauh manakah kita memahami dan menghayati hal-hal tersebut sebagai dasar. Ya, sebagai dasar! Tentu akan berbeda penerapannya saat kita belum benar-benar paham akan definisi “dasar” itu. Maka sesuai dari judul tulisan ini. Memandang sesuatu hal sebagai “dasar” tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu sebuah keikhlasan dan keberanian.

Jadi apapun peranan yang diambil mahasiswa, asalkan masih memegang “dasar” yang kita miliki dan kita anut pasti akan menghasilkan sesuatu yang positif. Dan tidak terbantahkan, mahasiswa harus mau melaksanakan peranannya. Karena sadar atau tidak, sudah ada seonggok beban nasib bangsa dan kesejahteraan masyarakat Indonesia di pundak kita. Permasalahannya, apakah kita cukup bernyali untuk membuka mata, telinga dan hati kita untuk melihat kenyataan akan adanya seonggok beban itu? Atau kita lebih memilih berpura-pura tidak tahu?

Kalau pilihan kita adalah yang pertama, perlu kita sadari bahwa ternyata kita masih harus banyak belajar dan terus belajar. Namun, jika pilihannya adalah yang kedua, silahkan pulang dan tidur yang nyenyak.

Masih dan selalu,
Demi tuhan,
Untuk Bangsa dan Almamater
Merdeka!

04 Desember 2008

Sebuah Intuisi; Sebuah Organ

oleh: wndprtm


Ketika mata ingin melihat, hati menyuruhnya tetap tertutup tenang
Ketika telinga ingin mendengar, otak menyuruhnya tuli sejenak
Ketika tangan ingin menggapai, tulang belakang berteriak menyuruhnya tetap diam

Sesekali, sang hati ingin menggapainya dan memeluknya erat hingga tak membiarkannya pergi;
Sang jemari ingin memegang tangannya dan membawanya pulang;
Sang tangan ingin menyusuri rambutnya hingga turun ke bumi dan menghapus sang air yang turun basah deras dari kelopak matanya;
Tapi sebuah bait kata "DIAM dan INGAT" dari sang otak membisukan semua gerakan yang akan terjadi.

Salah pepatah lama menyebutkan organ adalah satu.
Mungkin lebih tepatnya satu kesatuan, tetapi tidak dengan satu intuisi.

Akhirnya semua tetap tunduk kepada otak sang penguasa tubuh.
Semua memang diam, semua memang membatu dan melupakan intuisinya masing-masing.

Namun setelahnya masih tersisa seonggok dari sang kelopak mata. Setelah apa yang dilakukan sang otak, kelopak mata tidak dapat menahan gejolaknya keluar.
Pada awalnya memang sedikit dan perlahan bagai embun pagi pada dedaunan.
Namun semakin lama semakin tak tertahankan, bagai badai hujan, airnya deras mengalir menuruni liukan sang pipi dan gelombang bibir.

Basah? memang. Tetapi sang otak tetap mengering mengerontang. Akhirnya sang penguasa luluh lemas tak berdaya.

Dan akhirnya sekumpulkan intuisi tadi hanya menyisakan penyesalan.

29 November 2008

Mega Merah Cerah

oleh: Pasudayantri


Aku pikir ada apa
Langit merah
Seperti marah!
Seperti menghujamku
Dengan api-api kecemburuan
Dengan bodohnya,
Aku tersenyum-senyum saja
Tak mengerti apa-apa
Tapi mengapa hari ini langit berbeda?
Aku melangkah lambat-lambat
Mencari tahu
Hingga aku melihatnya
Gumpalan awan merah yang cantik
Melatari siluet gunung nan agung
Sungguh cantik!!
Subhanallah..
Ternyata langit sedang mabuk
Mabuk asmara!

Kalau begitu,
Mungkin hatiku juga merah...


-mencoba menulis sajak cinta

27 November 2008

Peringatan untuk Diri Sendiri

oleh: Kucing Liar


Aku dan kawan-kawanku bukanlah generasi yang dilahirkan untuk mewarisi kemapanan

Tanah dan waktu kami berpijak sekarang tidak memiliki kemapanan yang patut dipertahankan

Kemapanan ekonomi? Masih banyak rakyat yang tidak mampu makan tiga kali sehari

Kemapanan politik? Politik masih dilumuri kepentingan kotor para praktisi

Kemapanan sosial budaya? Sosial budaya kita tengah kehilangan jati diri

Kemapanan IPTEK? IPTEK kita berkiblat pada kapitalis industri

Kawan, kita tidak dilahirkan untuk meneruskan

Kita lahir untuk menjadi pionir

Kita lahir untuk membuat gebrakan

KITA ADALAH GENERASI PEMBERONTAK!!!

26 November 2008

Putih

oleh: Dinding



.
















maafkan aku putih,


menitikkan noda di helaimu
tapi aku penasaran
manusiawi bukan?
maaf noda ini semakin banyak
tapi maksudku ingin menjelaskan
agar tidak ada salah paham
nampaknya aku sudah keterlaluan
tapi yang penting kamu tahu
aku hitam
bisa tampak jelas karenamu


terimakasih putih.

25 November 2008

Payah

oleh: Kamaratih


aku benci ini semua

puisi

begitu konyol
larik-larik macam apa?
tidak berujung
berputar-putar
buang-buang waktu saja

lalu yang ini

pujangga

mengaku romantis
padahal bertele-tele
bilang cinta
jadinya alam semesta
haloo.. apa intinya?

tidak kalah pula

anda

merengek-rengek
melankolis
ikut-ikutan merangkai kata
sok puitis
sok penyair

cih, lebih baik tidur cepat sana!

24 November 2008

Hujan

oleh: everybody is someone

..........
.............
...................
roda-roda waktu berjalan melambat oleh karat
tiap orang bergerak dalam ketukan empat per empat
Melunakkan hatimu seperti ia melunakkan tanah
segala dosa mempermainkan keelastisan waktu termaafkan
seakan, alam meminta kamu untuk istirahat sejenak
merenung..
betulkah?
apakah setengah tahun yang lalu, kehidupan dipenuhi emosi yang meledak-ledak?
mengejar, berlari, menghantam, berteriak, menuduh, memaksa, menampar, membentak, menghentak...
benarkah, dibutuhkan alam untuk menegurmu.
agar kamu terus belajar
....melalui hujan?
mungkin..
setidaknya untukku...
dan hujan terus menjatuhkan dirinya ke bumi
dalam suara yang merdu
............
....................
.......................

23 November 2008

4 1/2 Laki Laki

oleh: Kucing Liar

Seorang lelaki datang dan berteriak lantang
Berdiri di atas dua kaki, mengepalkan tangan tinggi-tinggi
Hati telah menetapkan jalan, raga siap menghantam lawan
Menerobos dengan berani apapun yang menghalangi mimpi

Lelaki lain datang mengunjungi, apa yang membuatnya sakit hati
Hati merendah, persetan dengan semua fitnah
Tidak ada sepeser imbalan, untuk kewajiban yang tidak harus dilakukan
Hanya niat yang tulus, demi kebaikan para penerus

Lelaki lain lagi pergi, meninggalkan tanah yang dicintai
Nyawa diujung tanduk, bayaran atas perlawanan yang berkecamuk
Berlayar dari Ranah Minang, merelakan buah cinta tersayang
Karena tahu dengan pasti, cinta tidak pernah memiliki

Lelaki terakhir, berdamai dengan takdir
Mata tidak pernah mengalirkan air, senyum tidak pernah terhapus dari bibir
Cobaan datang untuk melumat, tangan menyambut dengan hangat
Baginya orang-orang yang berharga, tidak boleh ikut menderita

Lelaki pecundang, hidup di antara empat pejuang
Dua diantaranya mengalir dalam raga, dua sisanya berperang di depan mata
Lelaki menyedihkan di tengah segala kenyamanan
Tidak pernah percaya, dirinya cukup kuat untuk menghadapi dunia

21 November 2008

Aku Purnama

oleh : Dinding


Aku purnama

Bagian dari serpihan hatimu,
Matahari

Bagian dari memori indahmu,
Matahari

Bagian dari yang kau bilang mengambil sinarmu,
Matahari

Bagian dari yang kau jaga,
Matahari

Saat kau tatap aku
Bukan ku tak acuh,
Bukan ku tak tahu ada mu,

Tapi aku ingin
Melindungi dia
Menutup mata dia
Sekali saja
Darimu

Kau boleh membenci aku,
Aku pun membencimu matahari !
Karena kaulah yang dia pinta,
Bukan aku !
Mungkin ini egoku,
Tapi aku kasih padanya

Mahkotamu tak pernah kucuri
Aku tak pernah pantas memakainya !
Hanya saja,
Kupinjam setitik cahayamu pada malam hari
Untuk dia

Aku tak pernah dipuja sepertimu!
Menjadi tuhan atau dewa
Adapun yang memujaku
Hanya untuk merayu

Hangatmu membelai dia,
Aku takkan bisa !
Cerahmu menyinarinya,
Aku takkan mampu !

Pernah kudongkakkan kepalaku?
Sebagai sahaya yang tak berdaya!

Aku bukanlah untukmu
Matahari
Kau tak butuh aku !

Aku ada untuknya,
Bukan bumi,
Tapi dia, dia yang membutuhkanku
Karena aku ada
Ketika dia butuh
Dan aku ada
Untuk melindunginya
Slalu.

19 November 2008

Cermin Kaca Retak

oleh: Aisle


Praaakkk
cerita Kaca Retak
menampilkan wajah cantik dalam fragment

Braakkk
dunia retak-retak
senyum petak-petak
pikiran terkotak-kotak
beranggapan di luar diri adalah cemen

yang suka mengunyah permen
lalu meludah
kena dikaki
orang marah-marah
cuma bisa caci maki

-it made just the time we talk about brother-sisterhood in this affiliation-

18 November 2008

Matahariku Matahari

oleh: Satrya


Aku jatuh hati pada Bulan
Yang tak pernah kulihat rupanya
Aku adalah Matahari

Aku jatuh hati pada Bulan
Kuberikan sinar untuk meneranginya
Aku adalah Matahari

Aku jatuh hati pada Bulan
Berbagi memori bersamanya
Aku adalah Matahari

Aku jatuh hati pada Bulan
Kubiarkan teman kecilku berkeliling menjaganya
Aku adalah Matahari

Namun, saat aku bertatapan dengan Bulan
Cahayaku justru lenyap
Hilang dirampasnya
Semua menjadi hitam
Tak tampak sesosok pun

Aku ragu, rasa ini ‘kan berbalas
Bulan seperti acuh
Tak tahu keberadaanku
Sombong betul!
Padahal aku di sini menunggu

Aku adalah Matahari
Yang jatuh hati pada Bulan
Yang terus bersembunyi dariku

Aku adalah Matahari
Yang jatuh hati pada Bulan
Yang selalu melenyapkan anganku

Kubiarkan Bulan mencuri mahkotaku,
dan memamerkannya pada Bumi
Kubiarkan manusia memujanya,
dan menghujatku karena hangatku
Kubiarkan ia mendongakkan kepalanya,
dan tak mengakui keberadaanku

Aku tetaplah Matahari
Yang jatuh hati pada Bulan
Aku mencintai Bulan
Walaupun ia mungkin tidak tahu
Bulan adalah Matahariku

TELAH BEREDAR!!!!

VOID - Voice of IMA-Gunadharma edisi 2/2008
Memperingati Hari Pahlawan...





















ARSITEKTUR: Saksi Bisu Perjuangan Anak Bangsa
Menapaki arsitektur dari masa ke masa
Peristiwa apa yang terjadi pada masa lalu...?
Ternate
Menyaksikan keindahan yang tersebar di Ibukota Maluku Utara ini
Yuk, ke Gedung Merdeka!
Jalan-jalan mengelilingi gedung bersejarah ini,
hal menarik apa yang ada di dalamnya?
Tips: Bertahan Gak Tidur di Dalam Kelas? Bisalah ya..
Cara-cara unik untuk mengatasi kantuk di saat kuliah!!

Morfosis - IMA-G
pasang iklan. hub: Dhika +62 811 932 032

17 November 2008

Benci Benci

oleh: Sendari


Kekesalanku meluap-luap. Darah mendidih menggelegak. Mataku panas, gigi-gigi beradu, tak mampu lagi menahan lidah untuk tidak mengumpat.
Ingin kucacah lelaki itu,
kupotong-potong lalu dagingnya kulempar jadi makanan babi,
tulangnya aku lempar ke kumpulan anjing kampung di pojok sana.
Lidahnya kupotong dulu, biar kesakitan dia.

Atau kalau aku berbaik hati, jangan disiksa seperti itu. Biarlah dia menghilang saja dari dunia. Duniaku paling tidak, bagaimana pun caranya. Itu akan jadi hadiah terindah di pagi hariku yang cerah esok.
Beri aku pelajaran santet, guna-guna, tenung, kutuk, atau hal-hal magis khas Indonesia lainnya, ingin kukirim yang seburuk-buruknya.
Kuharap tak ada yang mencintainya, kumohon ibunya sudah tiada.
Kuharap dia manusia mufrad, sakitnya tak akan jadi lara siapa-siapa.
…
Apa sebesar itu bencimu?
untukku..

(menatap kosong berjam-jam, berintrospeksi)

16 November 2008

Purnama

oleh: Dinding


Matahari telah menghilang ditelan sang barat
kelabu gelap merayap selimuti langkahmu
bersama malam kau lihat Aku datang
dan juga Bintang-Bintang bersamaku
meski tak panas menghangatkan layaknya Matahari
Aku buatmu nyaman dalam sejuk
walau tak secerah sinar Matahari
Aku mencoba menerangi langkahmu dalam gelap
adapun Ku tak sebesar semegah Matahari
Aku kan buatmu aman dari malam

15 November 2008

Naik Kereta Api... Tut tut tut..

oleh: Agatha


Bagaikan anak-anak
riang bermimpi akan menaiki
kereta bercerobong asap
melaju kencang
merasakan angin menerpa wajah
sangat mendebarkan

Tadinya sangat mendebarkan
Semakin cepat aku melaju
Semakin menegangkan dan mengasyikkan
Namun kusadari kini

Panorama indah pada tiap bingkai jendela
hanya berupa garis-garis kecepatan
Aku takkan pernah tahu
Apa yang ada di bawah tiap pohon
di balik tiap tembok gedung
tiap monumen kota

Kini aku tak bisa berhenti
Loncat keluar dari kereta ini berarti mati
Hancur oleh kecepatan yang membunuh
Ya Tuhan, aku harus ikuti
Menjadi satu dengan relativitas
Menikmati kehampaan dan kehilangan

14 November 2008

Sesiang Bolong di Atas Nisan dengan Tulisan: DO NOT R.I.P

oleh: Aisle


Dunia berputar-putar
Dalam satu rol film
Rusak dan jamuran

Sekelilingku berlari-lari
Pelik menanti hari,
Bukan nadir diri

Aku lelah, mata ngantuk
Berkunang-kunang
Perjuangan yang berat belum saja kulalui
Tapi mengeluh

Rol film rusak berhenti,
Saatnya aku kembali
Pada gulungan rusak
Kehidupan kocak

Menanti doa agar dapat beristirahat dengan tenang...

13 November 2008

Binar-Binar

oleh: Satrya


malam
bulan itu tersenyum,

aku malu..
mengintip di balik mata
berharap ia tahu
aku juga tersenyum,

untuknya