oleh: Pelangi
Kakakku pernah mengatakan, laut dan pantai telah menjadi bagian dari diriku. Mungkin karena hampir sepanjang masa kecilku kuhabiskan untuk menghirup udara laut dan merasakan jemari kakiku melesak dalam butiran pasir putihnya.
Namun waktu tak membiarkanku terus menerus berada di sisinya. Sedikit demi sedikit aku menjauh darinya, dan mulai melupakannya.
Baru beberapa tahun belakangan ini aku mulai kembali berdekatan dengan teman masa kecilku ini. Waktu memang kejam, ia membuatku merasa canggung berhadapan kembali dengannya. Seakan aku baru kali pertama bertemu dengannya.
Aku sedikit takut. Aku merasa tak menemukan dirinya yang dulu kukenal dalam dirinya yang sekarang. Mungkin juga karena aku hanya mengingat separuh dari sifatnya ketika aku kecil dulu, sisi lembutnya. Sedangkan sisi lain dalam dirinya tidak terekam sedikit pun dalam ingatanku.
Begitu kerasnya kehidupan di laut, dan ia membagi sifatnya itu pada orang-orang yang tiap hari harus bergelut dengannya.
Menghadapimu, yang kutahu, tidak akan pernah cukup seorang diri. Pelajaran tentang tolong menolong yang sesungguhnya diajarkan olehmu. Bahkan jika tenaga manusia telah tergantikan oleh mesin-mesin canggih sekalipun.
Sifat kerasmu ini membuatku bergidik kadang-kadang.
Namun pada akhirnya aku mengetahui bagaimana mengertimu.
Hanya dalam sikap yang tenang aku dapat berkomunikasi denganmu, yang kadang mengejutkanku dengan bergemuruh sedemikian rupa hingga menelan segalanya. Namun, pada detik berikutnya kau layaknya teman bermain yang manis bagi seorang balita.
Dan karena aku harus belajar lebih banyak tentang sikap tenang ini,
kamu harus menungguku terlebih dahulu.
Aku harap kau bisa memaklumiku,
Laut...
(dalam tekanan tes menyelam^^)
Kakakku pernah mengatakan, laut dan pantai telah menjadi bagian dari diriku. Mungkin karena hampir sepanjang masa kecilku kuhabiskan untuk menghirup udara laut dan merasakan jemari kakiku melesak dalam butiran pasir putihnya.
Namun waktu tak membiarkanku terus menerus berada di sisinya. Sedikit demi sedikit aku menjauh darinya, dan mulai melupakannya.
Baru beberapa tahun belakangan ini aku mulai kembali berdekatan dengan teman masa kecilku ini. Waktu memang kejam, ia membuatku merasa canggung berhadapan kembali dengannya. Seakan aku baru kali pertama bertemu dengannya.
Aku sedikit takut. Aku merasa tak menemukan dirinya yang dulu kukenal dalam dirinya yang sekarang. Mungkin juga karena aku hanya mengingat separuh dari sifatnya ketika aku kecil dulu, sisi lembutnya. Sedangkan sisi lain dalam dirinya tidak terekam sedikit pun dalam ingatanku.
Begitu kerasnya kehidupan di laut, dan ia membagi sifatnya itu pada orang-orang yang tiap hari harus bergelut dengannya.
Menghadapimu, yang kutahu, tidak akan pernah cukup seorang diri. Pelajaran tentang tolong menolong yang sesungguhnya diajarkan olehmu. Bahkan jika tenaga manusia telah tergantikan oleh mesin-mesin canggih sekalipun.
Sifat kerasmu ini membuatku bergidik kadang-kadang.
Namun pada akhirnya aku mengetahui bagaimana mengertimu.
Hanya dalam sikap yang tenang aku dapat berkomunikasi denganmu, yang kadang mengejutkanku dengan bergemuruh sedemikian rupa hingga menelan segalanya. Namun, pada detik berikutnya kau layaknya teman bermain yang manis bagi seorang balita.
Dan karena aku harus belajar lebih banyak tentang sikap tenang ini,
kamu harus menungguku terlebih dahulu.
Aku harap kau bisa memaklumiku,
Laut...
(dalam tekanan tes menyelam^^)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar