oleh: Pasudayantri
Aku pikir ada apa
Langit merah
Seperti marah!
Seperti menghujamku
Dengan api-api kecemburuan
Dengan bodohnya,
Aku tersenyum-senyum saja
Tak mengerti apa-apa
Tapi mengapa hari ini langit berbeda?
Aku melangkah lambat-lambat
Mencari tahu
Hingga aku melihatnya
Gumpalan awan merah yang cantik
Melatari siluet gunung nan agung
Sungguh cantik!!
Subhanallah..
Ternyata langit sedang mabuk
Mabuk asmara!
Kalau begitu,
Mungkin hatiku juga merah...
-mencoba menulis sajak cinta
29 November 2008
27 November 2008
Peringatan untuk Diri Sendiri
oleh: Kucing Liar
Aku dan kawan-kawanku bukanlah generasi yang dilahirkan untuk mewarisi kemapanan
Tanah dan waktu kami berpijak sekarang tidak memiliki kemapanan yang patut dipertahankan
Kemapanan ekonomi? Masih banyak rakyat yang tidak mampu makan tiga kali sehari
Kemapanan politik? Politik masih dilumuri kepentingan kotor para praktisi
Kemapanan sosial budaya? Sosial budaya kita tengah kehilangan jati diri
Kemapanan IPTEK? IPTEK kita berkiblat pada kapitalis industri
Kawan, kita tidak dilahirkan untuk meneruskan
Kita lahir untuk menjadi pionir
Kita lahir untuk membuat gebrakan
KITA ADALAH GENERASI PEMBERONTAK!!!
Aku dan kawan-kawanku bukanlah generasi yang dilahirkan untuk mewarisi kemapanan
Tanah dan waktu kami berpijak sekarang tidak memiliki kemapanan yang patut dipertahankan
Kemapanan ekonomi? Masih banyak rakyat yang tidak mampu makan tiga kali sehari
Kemapanan politik? Politik masih dilumuri kepentingan kotor para praktisi
Kemapanan sosial budaya? Sosial budaya kita tengah kehilangan jati diri
Kemapanan IPTEK? IPTEK kita berkiblat pada kapitalis industri
Kawan, kita tidak dilahirkan untuk meneruskan
Kita lahir untuk menjadi pionir
Kita lahir untuk membuat gebrakan
KITA ADALAH GENERASI PEMBERONTAK!!!
tentang:
karya,
kucing liar,
prosa
26 November 2008
Putih
oleh: Dinding
.
maafkan aku putih,
terimakasih putih.
.
maafkan aku putih,
menitikkan noda di helaimu
tapi aku penasaran
manusiawi bukan?
maaf noda ini semakin banyak
tapi maksudku ingin menjelaskan
agar tidak ada salah paham
nampaknya aku sudah keterlaluan
tapi yang penting kamu tahu
aku hitam
bisa tampak jelas karenamu
tapi aku penasaran
manusiawi bukan?
maaf noda ini semakin banyak
tapi maksudku ingin menjelaskan
agar tidak ada salah paham
nampaknya aku sudah keterlaluan
tapi yang penting kamu tahu
aku hitam
bisa tampak jelas karenamu
terimakasih putih.
25 November 2008
Payah
oleh: Kamaratih
aku benci ini semua
puisi
begitu konyol
larik-larik macam apa?
tidak berujung
berputar-putar
buang-buang waktu saja
lalu yang ini
pujangga
mengaku romantis
padahal bertele-tele
bilang cinta
jadinya alam semesta
haloo.. apa intinya?
tidak kalah pula
anda
merengek-rengek
melankolis
ikut-ikutan merangkai kata
sok puitis
sok penyair
cih, lebih baik tidur cepat sana!
aku benci ini semua
puisi
begitu konyol
larik-larik macam apa?
tidak berujung
berputar-putar
buang-buang waktu saja
lalu yang ini
pujangga
mengaku romantis
padahal bertele-tele
bilang cinta
jadinya alam semesta
haloo.. apa intinya?
tidak kalah pula
anda
merengek-rengek
melankolis
ikut-ikutan merangkai kata
sok puitis
sok penyair
cih, lebih baik tidur cepat sana!
24 November 2008
Hujan
oleh: everybody is someone
..........
.............
...................
roda-roda waktu berjalan melambat oleh karat
tiap orang bergerak dalam ketukan empat per empat
Melunakkan hatimu seperti ia melunakkan tanah
segala dosa mempermainkan keelastisan waktu termaafkan
seakan, alam meminta kamu untuk istirahat sejenak
merenung..
betulkah?
apakah setengah tahun yang lalu, kehidupan dipenuhi emosi yang meledak-ledak?
mengejar, berlari, menghantam, berteriak, menuduh, memaksa, menampar, membentak, menghentak...
benarkah, dibutuhkan alam untuk menegurmu.
agar kamu terus belajar
....melalui hujan?
mungkin..
setidaknya untukku...
dan hujan terus menjatuhkan dirinya ke bumi
dalam suara yang merdu
............
....................
.......................
..........
.............
...................
roda-roda waktu berjalan melambat oleh karat
tiap orang bergerak dalam ketukan empat per empat
Melunakkan hatimu seperti ia melunakkan tanah
segala dosa mempermainkan keelastisan waktu termaafkan
seakan, alam meminta kamu untuk istirahat sejenak
merenung..
betulkah?
apakah setengah tahun yang lalu, kehidupan dipenuhi emosi yang meledak-ledak?
mengejar, berlari, menghantam, berteriak, menuduh, memaksa, menampar, membentak, menghentak...
benarkah, dibutuhkan alam untuk menegurmu.
agar kamu terus belajar
....melalui hujan?
mungkin..
setidaknya untukku...
dan hujan terus menjatuhkan dirinya ke bumi
dalam suara yang merdu
............
....................
.......................
23 November 2008
4 1/2 Laki Laki
oleh: Kucing Liar
Seorang lelaki datang dan berteriak lantang
Berdiri di atas dua kaki, mengepalkan tangan tinggi-tinggi
Hati telah menetapkan jalan, raga siap menghantam lawan
Menerobos dengan berani apapun yang menghalangi mimpi
Lelaki lain datang mengunjungi, apa yang membuatnya sakit hati
Hati merendah, persetan dengan semua fitnah
Tidak ada sepeser imbalan, untuk kewajiban yang tidak harus dilakukan
Hanya niat yang tulus, demi kebaikan para penerus
Lelaki lain lagi pergi, meninggalkan tanah yang dicintai
Nyawa diujung tanduk, bayaran atas perlawanan yang berkecamuk
Berlayar dari Ranah Minang, merelakan buah cinta tersayang
Karena tahu dengan pasti, cinta tidak pernah memiliki
Lelaki terakhir, berdamai dengan takdir
Mata tidak pernah mengalirkan air, senyum tidak pernah terhapus dari bibir
Cobaan datang untuk melumat, tangan menyambut dengan hangat
Baginya orang-orang yang berharga, tidak boleh ikut menderita
Lelaki pecundang, hidup di antara empat pejuang
Dua diantaranya mengalir dalam raga, dua sisanya berperang di depan mata
Lelaki menyedihkan di tengah segala kenyamanan
Tidak pernah percaya, dirinya cukup kuat untuk menghadapi dunia
Seorang lelaki datang dan berteriak lantang
Berdiri di atas dua kaki, mengepalkan tangan tinggi-tinggi
Hati telah menetapkan jalan, raga siap menghantam lawan
Menerobos dengan berani apapun yang menghalangi mimpi
Lelaki lain datang mengunjungi, apa yang membuatnya sakit hati
Hati merendah, persetan dengan semua fitnah
Tidak ada sepeser imbalan, untuk kewajiban yang tidak harus dilakukan
Hanya niat yang tulus, demi kebaikan para penerus
Lelaki lain lagi pergi, meninggalkan tanah yang dicintai
Nyawa diujung tanduk, bayaran atas perlawanan yang berkecamuk
Berlayar dari Ranah Minang, merelakan buah cinta tersayang
Karena tahu dengan pasti, cinta tidak pernah memiliki
Lelaki terakhir, berdamai dengan takdir
Mata tidak pernah mengalirkan air, senyum tidak pernah terhapus dari bibir
Cobaan datang untuk melumat, tangan menyambut dengan hangat
Baginya orang-orang yang berharga, tidak boleh ikut menderita
Lelaki pecundang, hidup di antara empat pejuang
Dua diantaranya mengalir dalam raga, dua sisanya berperang di depan mata
Lelaki menyedihkan di tengah segala kenyamanan
Tidak pernah percaya, dirinya cukup kuat untuk menghadapi dunia
21 November 2008
Aku Purnama
oleh : Dinding
Aku purnama
Bagian dari serpihan hatimu,
Matahari
Bagian dari memori indahmu,
Matahari
Bagian dari yang kau bilang mengambil sinarmu,
Matahari
Bagian dari yang kau jaga,
Matahari
Saat kau tatap aku
Bukan ku tak acuh,
Bukan ku tak tahu ada mu,
Tapi aku ingin
Melindungi dia
Menutup mata dia
Sekali saja
Darimu
Kau boleh membenci aku,
Aku pun membencimu matahari !
Karena kaulah yang dia pinta,
Bukan aku !
Mungkin ini egoku,
Tapi aku kasih padanya
Mahkotamu tak pernah kucuri
Aku tak pernah pantas memakainya !
Hanya saja,
Kupinjam setitik cahayamu pada malam hari
Untuk dia
Aku tak pernah dipuja sepertimu!
Menjadi tuhan atau dewa
Adapun yang memujaku
Hanya untuk merayu
Hangatmu membelai dia,
Aku takkan bisa !
Cerahmu menyinarinya,
Aku takkan mampu !
Pernah kudongkakkan kepalaku?
Sebagai sahaya yang tak berdaya!
Aku bukanlah untukmu
Matahari
Kau tak butuh aku !
Aku ada untuknya,
Bukan bumi,
Tapi dia, dia yang membutuhkanku
Karena aku ada
Ketika dia butuh
Dan aku ada
Untuk melindunginya
Slalu.
Aku purnama
Bagian dari serpihan hatimu,
Matahari
Bagian dari memori indahmu,
Matahari
Bagian dari yang kau bilang mengambil sinarmu,
Matahari
Bagian dari yang kau jaga,
Matahari
Saat kau tatap aku
Bukan ku tak acuh,
Bukan ku tak tahu ada mu,
Tapi aku ingin
Melindungi dia
Menutup mata dia
Sekali saja
Darimu
Kau boleh membenci aku,
Aku pun membencimu matahari !
Karena kaulah yang dia pinta,
Bukan aku !
Mungkin ini egoku,
Tapi aku kasih padanya
Mahkotamu tak pernah kucuri
Aku tak pernah pantas memakainya !
Hanya saja,
Kupinjam setitik cahayamu pada malam hari
Untuk dia
Aku tak pernah dipuja sepertimu!
Menjadi tuhan atau dewa
Adapun yang memujaku
Hanya untuk merayu
Hangatmu membelai dia,
Aku takkan bisa !
Cerahmu menyinarinya,
Aku takkan mampu !
Pernah kudongkakkan kepalaku?
Sebagai sahaya yang tak berdaya!
Aku bukanlah untukmu
Matahari
Kau tak butuh aku !
Aku ada untuknya,
Bukan bumi,
Tapi dia, dia yang membutuhkanku
Karena aku ada
Ketika dia butuh
Dan aku ada
Untuk melindunginya
Slalu.
19 November 2008
Cermin Kaca Retak
oleh: Aisle
Praaakkk
cerita Kaca Retak
menampilkan wajah cantik dalam fragment
Braakkk
dunia retak-retak
senyum petak-petak
pikiran terkotak-kotak
beranggapan di luar diri adalah cemen
yang suka mengunyah permen
lalu meludah
kena dikaki
orang marah-marah
cuma bisa caci maki
-it made just the time we talk about brother-sisterhood in this affiliation-

Praaakkk
cerita Kaca Retak
menampilkan wajah cantik dalam fragment
Braakkk
dunia retak-retak
senyum petak-petak
pikiran terkotak-kotak
beranggapan di luar diri adalah cemen
yang suka mengunyah permen
lalu meludah
kena dikaki
orang marah-marah
cuma bisa caci maki
-it made just the time we talk about brother-sisterhood in this affiliation-
18 November 2008
Matahariku Matahari
oleh: Satrya
Aku jatuh hati pada Bulan
Yang tak pernah kulihat rupanya
Aku adalah Matahari
Aku jatuh hati pada Bulan
Kuberikan sinar untuk meneranginya
Aku adalah Matahari
Aku jatuh hati pada Bulan
Berbagi memori bersamanya
Aku adalah Matahari
Aku jatuh hati pada Bulan
Kubiarkan teman kecilku berkeliling menjaganya
Aku adalah Matahari
Namun, saat aku bertatapan dengan Bulan
Cahayaku justru lenyap
Hilang dirampasnya
Semua menjadi hitam
Tak tampak sesosok pun
Aku ragu, rasa ini ‘kan berbalas
Bulan seperti acuh
Tak tahu keberadaanku
Sombong betul!
Padahal aku di sini menunggu
Aku adalah Matahari
Yang jatuh hati pada Bulan
Yang terus bersembunyi dariku
Aku adalah Matahari
Yang jatuh hati pada Bulan
Yang selalu melenyapkan anganku
Kubiarkan Bulan mencuri mahkotaku,
dan memamerkannya pada Bumi
Kubiarkan manusia memujanya,
dan menghujatku karena hangatku
Kubiarkan ia mendongakkan kepalanya,
dan tak mengakui keberadaanku
Aku tetaplah Matahari
Yang jatuh hati pada Bulan
Aku mencintai Bulan
Walaupun ia mungkin tidak tahu
Bulan adalah Matahariku
Aku jatuh hati pada Bulan
Yang tak pernah kulihat rupanya
Aku adalah Matahari
Aku jatuh hati pada Bulan
Kuberikan sinar untuk meneranginya
Aku adalah Matahari
Aku jatuh hati pada Bulan
Berbagi memori bersamanya
Aku adalah Matahari
Aku jatuh hati pada Bulan
Kubiarkan teman kecilku berkeliling menjaganya
Aku adalah Matahari
Namun, saat aku bertatapan dengan Bulan
Cahayaku justru lenyap
Hilang dirampasnya
Semua menjadi hitam
Tak tampak sesosok pun
Aku ragu, rasa ini ‘kan berbalas
Bulan seperti acuh
Tak tahu keberadaanku
Sombong betul!
Padahal aku di sini menunggu
Aku adalah Matahari
Yang jatuh hati pada Bulan
Yang terus bersembunyi dariku
Aku adalah Matahari
Yang jatuh hati pada Bulan
Yang selalu melenyapkan anganku
Kubiarkan Bulan mencuri mahkotaku,
dan memamerkannya pada Bumi
Kubiarkan manusia memujanya,
dan menghujatku karena hangatku
Kubiarkan ia mendongakkan kepalanya,
dan tak mengakui keberadaanku
Aku tetaplah Matahari
Yang jatuh hati pada Bulan
Aku mencintai Bulan
Walaupun ia mungkin tidak tahu
Bulan adalah Matahariku
TELAH BEREDAR!!!!
VOID - Voice of IMA-Gunadharma edisi 2/2008
Memperingati Hari Pahlawan...


ARSITEKTUR: Saksi Bisu Perjuangan Anak Bangsa
Menapaki arsitektur dari masa ke masa
Peristiwa apa yang terjadi pada masa lalu...?
Ternate
Menyaksikan keindahan yang tersebar di Ibukota Maluku Utara ini
Yuk, ke Gedung Merdeka!
Jalan-jalan mengelilingi gedung bersejarah ini,
hal menarik apa yang ada di dalamnya?
Tips: Bertahan Gak Tidur di Dalam Kelas? Bisalah ya..
Cara-cara unik untuk mengatasi kantuk di saat kuliah!!
Morfosis - IMA-G
pasang iklan. hub: Dhika +62 811 932 032
Memperingati Hari Pahlawan...


ARSITEKTUR: Saksi Bisu Perjuangan Anak Bangsa
Menapaki arsitektur dari masa ke masa
Peristiwa apa yang terjadi pada masa lalu...?
Ternate
Menyaksikan keindahan yang tersebar di Ibukota Maluku Utara ini
Yuk, ke Gedung Merdeka!
Jalan-jalan mengelilingi gedung bersejarah ini,
hal menarik apa yang ada di dalamnya?
Tips: Bertahan Gak Tidur di Dalam Kelas? Bisalah ya..
Cara-cara unik untuk mengatasi kantuk di saat kuliah!!
Morfosis - IMA-G
pasang iklan. hub: Dhika +62 811 932 032
17 November 2008
Benci Benci
oleh: Sendari
Kekesalanku meluap-luap. Darah mendidih menggelegak. Mataku panas, gigi-gigi beradu, tak mampu lagi menahan lidah untuk tidak mengumpat.
Ingin kucacah lelaki itu,
kupotong-potong lalu dagingnya kulempar jadi makanan babi,
tulangnya aku lempar ke kumpulan anjing kampung di pojok sana.
Lidahnya kupotong dulu, biar kesakitan dia.
Atau kalau aku berbaik hati, jangan disiksa seperti itu. Biarlah dia menghilang saja dari dunia. Duniaku paling tidak, bagaimana pun caranya. Itu akan jadi hadiah terindah di pagi hariku yang cerah esok.
Beri aku pelajaran santet, guna-guna, tenung, kutuk, atau hal-hal magis khas Indonesia lainnya, ingin kukirim yang seburuk-buruknya.
Kuharap tak ada yang mencintainya, kumohon ibunya sudah tiada.
Kuharap dia manusia mufrad, sakitnya tak akan jadi lara siapa-siapa.
…
Apa sebesar itu bencimu?
untukku..
(menatap kosong berjam-jam, berintrospeksi)
Kekesalanku meluap-luap. Darah mendidih menggelegak. Mataku panas, gigi-gigi beradu, tak mampu lagi menahan lidah untuk tidak mengumpat.
Ingin kucacah lelaki itu,
kupotong-potong lalu dagingnya kulempar jadi makanan babi,
tulangnya aku lempar ke kumpulan anjing kampung di pojok sana.
Lidahnya kupotong dulu, biar kesakitan dia.
Atau kalau aku berbaik hati, jangan disiksa seperti itu. Biarlah dia menghilang saja dari dunia. Duniaku paling tidak, bagaimana pun caranya. Itu akan jadi hadiah terindah di pagi hariku yang cerah esok.
Beri aku pelajaran santet, guna-guna, tenung, kutuk, atau hal-hal magis khas Indonesia lainnya, ingin kukirim yang seburuk-buruknya.
Kuharap tak ada yang mencintainya, kumohon ibunya sudah tiada.
Kuharap dia manusia mufrad, sakitnya tak akan jadi lara siapa-siapa.
…
Apa sebesar itu bencimu?
untukku..
(menatap kosong berjam-jam, berintrospeksi)
16 November 2008
Purnama
oleh: Dinding
Matahari telah menghilang ditelan sang barat
kelabu gelap merayap selimuti langkahmu
bersama malam kau lihat Aku datang
dan juga Bintang-Bintang bersamaku
meski tak panas menghangatkan layaknya Matahari
Aku buatmu nyaman dalam sejuk
walau tak secerah sinar Matahari
Aku mencoba menerangi langkahmu dalam gelap
adapun Ku tak sebesar semegah Matahari
Aku kan buatmu aman dari malam
Matahari telah menghilang ditelan sang barat
kelabu gelap merayap selimuti langkahmu
bersama malam kau lihat Aku datang
dan juga Bintang-Bintang bersamaku
meski tak panas menghangatkan layaknya Matahari
Aku buatmu nyaman dalam sejuk
walau tak secerah sinar Matahari
Aku mencoba menerangi langkahmu dalam gelap
adapun Ku tak sebesar semegah Matahari
Aku kan buatmu aman dari malam
15 November 2008
Naik Kereta Api... Tut tut tut..
oleh: Agatha
Bagaikan anak-anak
riang bermimpi akan menaiki
kereta bercerobong asap
melaju kencang
merasakan angin menerpa wajah
sangat mendebarkan
Tadinya sangat mendebarkan
Semakin cepat aku melaju
Semakin menegangkan dan mengasyikkan
Namun kusadari kini
Panorama indah pada tiap bingkai jendela
hanya berupa garis-garis kecepatan
Aku takkan pernah tahu
Apa yang ada di bawah tiap pohon
di balik tiap tembok gedung
tiap monumen kota
Kini aku tak bisa berhenti
Loncat keluar dari kereta ini berarti mati
Hancur oleh kecepatan yang membunuh
Ya Tuhan, aku harus ikuti
Menjadi satu dengan relativitas
Menikmati kehampaan dan kehilangan
Bagaikan anak-anak
riang bermimpi akan menaiki
kereta bercerobong asap
melaju kencang
merasakan angin menerpa wajah
sangat mendebarkan
Tadinya sangat mendebarkan
Semakin cepat aku melaju
Semakin menegangkan dan mengasyikkan
Namun kusadari kini
Panorama indah pada tiap bingkai jendela
hanya berupa garis-garis kecepatan
Aku takkan pernah tahu
Apa yang ada di bawah tiap pohon
di balik tiap tembok gedung
tiap monumen kota
Kini aku tak bisa berhenti
Loncat keluar dari kereta ini berarti mati
Hancur oleh kecepatan yang membunuh
Ya Tuhan, aku harus ikuti
Menjadi satu dengan relativitas
Menikmati kehampaan dan kehilangan
14 November 2008
Sesiang Bolong di Atas Nisan dengan Tulisan: DO NOT R.I.P
oleh: Aisle
Dunia berputar-putar
Dalam satu rol film
Rusak dan jamuran
Sekelilingku berlari-lari
Pelik menanti hari,
Bukan nadir diri
Aku lelah, mata ngantuk
Berkunang-kunang
Perjuangan yang berat belum saja kulalui
Tapi mengeluh
Rol film rusak berhenti,
Saatnya aku kembali
Pada gulungan rusak
Kehidupan kocak
Menanti doa agar dapat beristirahat dengan tenang...
Dunia berputar-putar
Dalam satu rol film
Rusak dan jamuran
Sekelilingku berlari-lari
Pelik menanti hari,
Bukan nadir diri
Aku lelah, mata ngantuk
Berkunang-kunang
Perjuangan yang berat belum saja kulalui
Tapi mengeluh
Rol film rusak berhenti,
Saatnya aku kembali
Pada gulungan rusak
Kehidupan kocak
Menanti doa agar dapat beristirahat dengan tenang...
13 November 2008
Binar-Binar
oleh: Satrya
malam
bulan itu tersenyum,
aku malu..
mengintip di balik mata
berharap ia tahu
aku juga tersenyum,
untuknya
malam
bulan itu tersenyum,
aku malu..
mengintip di balik mata
berharap ia tahu
aku juga tersenyum,
untuknya
12 November 2008
Selalu Kedai Kopimu
oleh: Aisle
Selalu menjadi kedai kopi,
Walau tamuku sangat jarang
Hanya satu dalam satu kesempatan
Tak ada lonceng di depan pintu
Tiba-tiba saja sudah ada tamu untuk disuguhi..
Terkadang ada yang memanggil kembali..
Selalu saja hanya menjadi kedai kopi
Bagi pengembara yang kelelahan
Mencari rumah untuknya nanti berdiam
Kedai kopi ini berpikir untuk tutup saja
Hijrah, mencari rasa baru
Menjadi bagian dari para pengembara
Yang justru berhenti di salah satu kedai kopi lain
Atau menemanimu berjalan
Sampai kau menemukan rumah untukmu...
Setidaknya memastikan kau baik-baik saja
Dan, jika aku bukan bagian dari rumahmu
Aku jadi tetanggamu
Bukan maksud menghantui
Tapi memastikan dirimu baik2 saja..
Oh…
Tuan pengembara,
Berapa lama lagi kau biarkan kedai kopimu terombang ambing
Memang kami terdiri dari kayu
Oleh karenanya kami mudah terhanyut
Semakin lama kau biarkan,
Tidak kau tambat di pantaimu yang rupawan
Kami menjauh
Dan pergi,
Tahu-tahu
Kami sudah tak disini lagi
Aku dan kedai kopiku yang kau ombang-ambingkan
Selalu menjadi kedai kopi,
Walau tamuku sangat jarang
Hanya satu dalam satu kesempatan
Tak ada lonceng di depan pintu
Tiba-tiba saja sudah ada tamu untuk disuguhi..
Terkadang ada yang memanggil kembali..
Selalu saja hanya menjadi kedai kopi
Bagi pengembara yang kelelahan
Mencari rumah untuknya nanti berdiam
Kedai kopi ini berpikir untuk tutup saja
Hijrah, mencari rasa baru
Menjadi bagian dari para pengembara
Yang justru berhenti di salah satu kedai kopi lain
Atau menemanimu berjalan
Sampai kau menemukan rumah untukmu...
Setidaknya memastikan kau baik-baik saja
Dan, jika aku bukan bagian dari rumahmu
Aku jadi tetanggamu
Bukan maksud menghantui
Tapi memastikan dirimu baik2 saja..
Oh…
Tuan pengembara,
Berapa lama lagi kau biarkan kedai kopimu terombang ambing
Memang kami terdiri dari kayu
Oleh karenanya kami mudah terhanyut
Semakin lama kau biarkan,
Tidak kau tambat di pantaimu yang rupawan
Kami menjauh
Dan pergi,
Tahu-tahu
Kami sudah tak disini lagi
Aku dan kedai kopiku yang kau ombang-ambingkan
11 November 2008
Keluh Lelah
oleh: Satrya
Aku dikutuk!!
Dengan kata-kata
Bibirku bagai pisau
Yang tajam menyayat hati
Lidah ini seperti racun
Yang membuat semua jadi layu
Jadi menuju mati
Aku dikutuk!!
Dengan kata-kata
Bibirku bagai pisau
Yang tajam menyayat hati
Lidah ini seperti racun
Yang membuat semua jadi layu
Jadi menuju mati
10 November 2008
Aku Ingin Sesuka Hati
oleh: Aisle
Aku ingin berhenti..
Aku ingin sesuka hati..
Aku lelah...
Juga jemari
Menekan tuts-tuts piano
Tanpa senar
Ingin berhenti
Ingin sesuka hati
Jemari lelah
Ingin tersenyum
Ingin tertawa
Ingin joker!
Aku ingin berhenti..
Aku ingin sesuka hati..
Aku lelah...
Juga jemari
Menekan tuts-tuts piano
Tanpa senar
Ingin berhenti
Ingin sesuka hati
Jemari lelah
Ingin tersenyum
Ingin tertawa
Ingin joker!
09 November 2008
Siapa yang Gila?!
oleh: kopi biasa
Meringkuk aku di ujung separator
Di bawah lampu jalan warna kuning
Ini siang atau malam ya?
Bagiku sama saja...
Semua orang menghindar saat melihatku,
Sebagian tertawa terkikik
Sebagian melempariku batu
Tapi paling sering mengerenyit
Jijik! katanya...
Kadang aku berpikir sampai-sampai tak bisa menahan tawa
Seperti orang gila saja
mengapa mereka mengingkari hatinya sendiri?
Aku tau mereka iri
Hanya malu-malu mengakui...
Pasti tidak ada yg berani tidur-tiduran di separator jalan seperti aku...
Apalagi dalam keadaan jujur pada tubuhku sendiri..
tanpa ditutup-tutupi...
Hahahaha
Aku yakin kamu iri!!!
Meringkuk aku di ujung separator
Di bawah lampu jalan warna kuning
Ini siang atau malam ya?
Bagiku sama saja...
Semua orang menghindar saat melihatku,
Sebagian tertawa terkikik
Sebagian melempariku batu
Tapi paling sering mengerenyit
Jijik! katanya...
Kadang aku berpikir sampai-sampai tak bisa menahan tawa
Seperti orang gila saja
mengapa mereka mengingkari hatinya sendiri?
Aku tau mereka iri
Hanya malu-malu mengakui...
Pasti tidak ada yg berani tidur-tiduran di separator jalan seperti aku...
Apalagi dalam keadaan jujur pada tubuhku sendiri..
tanpa ditutup-tutupi...
Hahahaha
Aku yakin kamu iri!!!
08 November 2008
Kapan ya pemilu di Indonesia bisa kayak pemilu Obama-McCain?
oleh: goyang dombret
Inget-inget pemilu negeri Paman Sam, terakhir antara Obama-McCain di mana Obama terpilih untuk menjadi calon presiden Amerika yang berkulit hitam. Sejarah baru. Sebagai orang yang kadang-kadang suka baca koran ama majalah-hehe-saya dapat merasakan seperti apa ambience pada saat pemilu, mungkin ini salah satu preseden tentang pesta rakyat yang baik, bukan ngebahas sistemnya lho, ini tentang bagaimana masyarakat suatu negara begitu bergairah untuk menjagokan pilihannya masing-masing. Gimana masing-masing kubu dari partai demokrat dan partai? Begitu kekeuh untuk mempromosikan betapa mereka memang pantas untuk memimpin negara. Excitement dari tiap kubu maupun individu begitu terasa. Memang ini semua gak lepas dari peran media di AS, di mana media massa di sana kebanyakan mendukung Obama untuk menjadi presiden. Di AS media massa juga bebas menentukan sikapnya. Beberapa media massa di Indonesia juga kelihatannya pro-Obama.
Sebagai orang Indonesia, yang baru kali ini akan mencoblos untuk memilih calon pemimpin bangsa ini, saya merasa tidak terlalu peduli siapa yang menang, siapa dia dari partai mana si calon pemimpin itu. Rasanya tidak ada gairah tertentu untuk memilih seseorang. Apa mungkin saya saja ya?? Hehe.. Yah, mungkin juga karena belum pernah ada kampanye langsung dari caleg-caleg partai. Sekarang partai terasa begitu banyak. Bahkan nama-nama bakal calon presiden banyak yang terdengar, dari yang sudah dikenal, hingga yang tidak pernah dikenal. Di lain sisi, saya merasa miris karena seharusnya ini menjadi ajang kita untuk menentukan pilihan kita, menyuarakan suara kita, karena ternyata satu suara itu penting!!
Sekedar opini, selama ini proses kampanye caleg/capres banyak mengumbar janji dan saya begitu skeptis merasa itu hanya sekedar lip-service demi mendapatkan suara yang lebih dan lebih. Yang menarik, ada satu caleg dari suatu partai (untung saya lupa partai apa..hehe) dengan tagline “Jangan biarkan rakyat menderita, biar kami para pemimpin yang menderita”. Sekilas, kalimat ini berusaha untuk menimbulkan kesan simpati kepada rakyat kecil yang menderita. Tapi di lain sisi, saya merasa itu begitu dangkal, karena setahu saya ketika seorang individu menderita, individu tersebut akan kurang maksimal menjalankan aktivitasnya. Makinlah bertambah sentimen pribadi saya. Kembali kepada Obama-McCain, kedua calon tersebut berlomba-lomba untuk berbakti kepada rakyatnya, berusaha untuk menjadi ‘pahlawan’ di setiap hati para simpatisannya. Dan tentunya, sebelum sampai taraf ‘calon pemimpin besar’, mereka sudah mati-matian menunjukkan pengabdiannya kepada negara. Tapi apakah calon-calon pemimpin kita seperti itu?? Hmm, saya optimis Indonesia akan menjadi lebih baik. Setidaknya, saya belajar, di kehidupan sehari-hari saya harus menunjukkan kinerja saya yang paling baik, tidak hanya sekedar bicara. Teringat salah satu kata-kata seorang teman, “jangan selalu menuntut, jangan lupa untuk mengabdi”, sedikit mirip dengan kata-kata J.F. Kennedy, “Don’t ask what your country gives to you, but ask yourself what can you give to your country”. Terdengar dangkal, tapi memiliki makna daripada sekedar ‘dangkal’. Rasanya ingin punya calon-calon pemimpin seperti Obama dan McCain.
Inget-inget pemilu negeri Paman Sam, terakhir antara Obama-McCain di mana Obama terpilih untuk menjadi calon presiden Amerika yang berkulit hitam. Sejarah baru. Sebagai orang yang kadang-kadang suka baca koran ama majalah-hehe-saya dapat merasakan seperti apa ambience pada saat pemilu, mungkin ini salah satu preseden tentang pesta rakyat yang baik, bukan ngebahas sistemnya lho, ini tentang bagaimana masyarakat suatu negara begitu bergairah untuk menjagokan pilihannya masing-masing. Gimana masing-masing kubu dari partai demokrat dan partai? Begitu kekeuh untuk mempromosikan betapa mereka memang pantas untuk memimpin negara. Excitement dari tiap kubu maupun individu begitu terasa. Memang ini semua gak lepas dari peran media di AS, di mana media massa di sana kebanyakan mendukung Obama untuk menjadi presiden. Di AS media massa juga bebas menentukan sikapnya. Beberapa media massa di Indonesia juga kelihatannya pro-Obama.
Sebagai orang Indonesia, yang baru kali ini akan mencoblos untuk memilih calon pemimpin bangsa ini, saya merasa tidak terlalu peduli siapa yang menang, siapa dia dari partai mana si calon pemimpin itu. Rasanya tidak ada gairah tertentu untuk memilih seseorang. Apa mungkin saya saja ya?? Hehe.. Yah, mungkin juga karena belum pernah ada kampanye langsung dari caleg-caleg partai. Sekarang partai terasa begitu banyak. Bahkan nama-nama bakal calon presiden banyak yang terdengar, dari yang sudah dikenal, hingga yang tidak pernah dikenal. Di lain sisi, saya merasa miris karena seharusnya ini menjadi ajang kita untuk menentukan pilihan kita, menyuarakan suara kita, karena ternyata satu suara itu penting!!
Sekedar opini, selama ini proses kampanye caleg/capres banyak mengumbar janji dan saya begitu skeptis merasa itu hanya sekedar lip-service demi mendapatkan suara yang lebih dan lebih. Yang menarik, ada satu caleg dari suatu partai (untung saya lupa partai apa..hehe) dengan tagline “Jangan biarkan rakyat menderita, biar kami para pemimpin yang menderita”. Sekilas, kalimat ini berusaha untuk menimbulkan kesan simpati kepada rakyat kecil yang menderita. Tapi di lain sisi, saya merasa itu begitu dangkal, karena setahu saya ketika seorang individu menderita, individu tersebut akan kurang maksimal menjalankan aktivitasnya. Makinlah bertambah sentimen pribadi saya. Kembali kepada Obama-McCain, kedua calon tersebut berlomba-lomba untuk berbakti kepada rakyatnya, berusaha untuk menjadi ‘pahlawan’ di setiap hati para simpatisannya. Dan tentunya, sebelum sampai taraf ‘calon pemimpin besar’, mereka sudah mati-matian menunjukkan pengabdiannya kepada negara. Tapi apakah calon-calon pemimpin kita seperti itu?? Hmm, saya optimis Indonesia akan menjadi lebih baik. Setidaknya, saya belajar, di kehidupan sehari-hari saya harus menunjukkan kinerja saya yang paling baik, tidak hanya sekedar bicara. Teringat salah satu kata-kata seorang teman, “jangan selalu menuntut, jangan lupa untuk mengabdi”, sedikit mirip dengan kata-kata J.F. Kennedy, “Don’t ask what your country gives to you, but ask yourself what can you give to your country”. Terdengar dangkal, tapi memiliki makna daripada sekedar ‘dangkal’. Rasanya ingin punya calon-calon pemimpin seperti Obama dan McCain.
tentang:
artikel,
goyang dombret,
karya
06 November 2008
Langkah-Langkahmu
oleh: Morfosis kecil
Inilah langkah keseratus
Tempatmu berhenti sejenak
Beristirahat
Sambil menatap jejakmu
Di belakang
Inilah langkah keseratus
Keseluruhan mimpi belum terlihat
Belum jelas
Tapi semua merasakan
Kesungguhan
Inilah langkah keseratus
Tertawa-tawa aku bersamamu
Menertawakanmu
Sekedar terlarut mengingat
Mengenang
Inilah langkah keseratus
Hanya sampai di sini aku mampu
Menemanimu
Mengiringimu dengan senyuman
Diam-diam berharap
Inilah langkah keseratus
Kita tidak di sini ’tuk berhenti
Ayunan kaki menggapai
Menapaki mimpi-mimpi
Kawan,
Inilah langkah keseratus
Milikmu
Hanya milikmu
Inilah langkah keseratus
Tempatmu berhenti sejenak
Beristirahat
Sambil menatap jejakmu
Di belakang
Inilah langkah keseratus
Keseluruhan mimpi belum terlihat
Belum jelas
Tapi semua merasakan
Kesungguhan
Inilah langkah keseratus
Tertawa-tawa aku bersamamu
Menertawakanmu
Sekedar terlarut mengingat
Mengenang
Inilah langkah keseratus
Hanya sampai di sini aku mampu
Menemanimu
Mengiringimu dengan senyuman
Diam-diam berharap
Inilah langkah keseratus
Kita tidak di sini ’tuk berhenti
Ayunan kaki menggapai
Menapaki mimpi-mimpi
Kawan,
Inilah langkah keseratus
Milikmu
Hanya milikmu
05 November 2008
Ayah
oleh: Sendari
Kebahagiaan
Ayah seorang pemain sepak bola. Tentu saja dia jago berlari. Larinya sangat kencang dan pandai mengoper bola serta mencetak gol. Ayah muncul di banyak majalah olahraga. Ayah diwawancara banyak stasiun televisi. Ayah sering dipotret. Ayah sering dikerumuni dan diminta tandatangannya. Ayah terkenal.
Di rumah sangat banyak piala yang Ayah punya. Satu lemari penuh ditambah sejumlah kertas penghargaan yang dibingkai rapi, tersebar di dinding rumah. Ayah selalu bersama aku dan Ibu di akhir pekan. Ayah mengajariku berlari dan bermain bola dengkul. Bola dengkul adalah permainan menjaga bola agar tidak memantul ke tanah dengan memantulkannya ke anggota tubuh, salah satunya dengkul.
Hidup Ayah itu berlari, nak. Tuturnya padaku suatu malam. Dari kecil Ayah sudah berlari. Waktu SD Ayah juara lari. Ayah pernah beramai-ramai mencuri mangga di Abah Ilham, ketahuan, lalu lari. Ayah senang berlari. Walau tak terlambat ke sekolah pun, Ayah lari. Lalu Ayah mengenal sepak bola. Olahraga yang di dalamnya pemain diharuskan untuk berlari. Ayah coba, lalu terpukau. Bukan karena bola, gawang, atau yang lain. Lari, Yah? Tebakku. Betul.
Jika kupikir-pikir Ayah terobsesi sekali dengan lari. Dia mengumpulkan guntingan-guntingan gambar pelari yang sedang melebarkan kakinya, menekuk siku, disertai kulit bercahaya mengkilap karena keringat. Ada pelari professional dengan seragam lengkap, ada pula pelari biasa yang sedang sprint atau sekedar jogging. Dari pria kurus berotot, kulit hitam, Cina, Jawa, wanita seksi, ibu-ibu gemuk, bapak tua, sampai anak TK yang lomba lari pun Ayah punya gambarnya. Semua sedang dalam posisi melangkah lebar dengan sedikit ayunan lompatan, berlari. Inilah posisi yang dicintai Ayah, tak sekedar melangkah, tapi lari.
Kesedihan
Sementara Ayah begitu cinta pada berlari, aku tak bisa berlari terlalu jauh ataupun terlalu cepat. Aku mudah lelah. Kata Ibu aku punya asma. Seringkali aku mencoba berlari seperti Ayah, dadaku sakit. Tarik napas sakit. Menghembuskan begitu juga rasanya. Terpaksa aku berhenti dan meneruskan hanya dengan berjalan. Tanpa ayunan lompatan yang sering Ayah ajarkan. Bola dengkul pun akhirnya lama tak aku mainkan.
Suatu hari, hari pertamaku di sekolah. Aku cukup menghebohkan sebagai anak Ayah. Ayah datang ke sekolah mengantarku. Beberapa anak kelas yang agak besar mulai melihat dan menunjuk-nunjuk ke arah kami ketika kami melewati gerbang sekolah. Lama-lama Ayah dikerubungi dan diajak foto bersama, juga dimintai tandatangan. Tentu saja aku bangga jadi anak Ayah.
Aku bercerita betapa pandainya Ayah berlari, juga bermain bola dengkul, dan segala yang menyenangkan bersama Ayah. Karena itulah aku punya banyak teman.
Kejadian
Suatu pagi, kutemukan Ayah tak ada. Ibu bilang Ayah pergi sebentar. Beberapa hari Ayah tak pulang, aku rindu pada Ayah.Setelah makan siang hujan turun, aku pamit pada Ibu untuk mandi hujan, kebiasaan anak-anak di kompleks tempat tinggalku. Hujan jarang sekali turun di kota ini. Jadi ketika hujan turun, kami bersukaria. Kami lomba lari sambil hujan-hujanan, main sepak bola, main bola dengkul.
Degg.
Sekelebat kurasakan kehadiran Ayah. Tap-e-tap-e-tapp. Langkah kaki Ayah. Aku kenal irama larinya. Irama aneh satu-satu yang tak putus. Tetapi tak dapat kutemukan Ayah. Aku pun lari pulang, walau lariku pelan, ingin bercerita pada Ibu dan bertanya apakah Ayah pulang. Di rumah Ibu sedang duduk di meja makan kami, menunduk, bahunya bergerak-gerak naik turun. Tiba-tiba aku dipeluk. Lama sekali.
Aku tidur seranjang dengan Ibu malam ini. Katanya Ibu kangen Ayah dan merasa lebih baik tidur denganku. Kami bercakap-cakap sebelum tidur. Sampai tertidur yang kuingat adalah suara Ibu yang tak henti bercerita pertemuannya dengan Ayah.
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku menunggu jemputan di depan pagar. Selama Ayah tak pulang, Ibu yang menjemputku. Hari ini terlambat sepertinya.
“Bakti, ada Ayahmu di koran. Nih”
Ayah memang sering ada di koran. Tapi sekarang sepertinya bukan urusan lari. Foto Ayah sebesar telapak tanganku sedang berlari dengan seragam sepakbolanya. Ayah sedang tertawa.
Aku sudah lancar membaca dan cukup megerti bahwa Ayah sedang berurusan dengan sesuatu yang bernama dopping. Aku tak pernah dengar nama itu. Di koran Ayah dibilang bandar. Apapula itu. Untung Ibu segera datang dan aku bisa bertanya tentang Ayah. Aku rindu sekali sama Ayah, Bu.
“Ibu, Ayah dimana sih?” Tak langsung menjawab, Ibu diam dan mengambil koran yang aku bawa. Mobil kami pun berjalan. Ibu menekan gas sembari menoleh.
“Ayah sedang dalam pelarian, nak.”
Ibuku memang pandai. Aku bisa tersenyum sekarang. Membayangkan Ayah sedang menikmati hidupnya. Pelarian. Yah, pikirku, pasti ada hubungannya dengan lari dan Ayah pasti senang. Kalau Ayah bahagia, akupun harus bahagia untuk Ayah.
Sambil tersenyum, aku ingin bertanya lebih lanjut tentang pemikiranku tadi: Bu, pelarian itu apa sih?, sampai kulihat Ibu menangis, bahunya naik turun.
Kebahagiaan
Ayah seorang pemain sepak bola. Tentu saja dia jago berlari. Larinya sangat kencang dan pandai mengoper bola serta mencetak gol. Ayah muncul di banyak majalah olahraga. Ayah diwawancara banyak stasiun televisi. Ayah sering dipotret. Ayah sering dikerumuni dan diminta tandatangannya. Ayah terkenal.
Di rumah sangat banyak piala yang Ayah punya. Satu lemari penuh ditambah sejumlah kertas penghargaan yang dibingkai rapi, tersebar di dinding rumah. Ayah selalu bersama aku dan Ibu di akhir pekan. Ayah mengajariku berlari dan bermain bola dengkul. Bola dengkul adalah permainan menjaga bola agar tidak memantul ke tanah dengan memantulkannya ke anggota tubuh, salah satunya dengkul.
Hidup Ayah itu berlari, nak. Tuturnya padaku suatu malam. Dari kecil Ayah sudah berlari. Waktu SD Ayah juara lari. Ayah pernah beramai-ramai mencuri mangga di Abah Ilham, ketahuan, lalu lari. Ayah senang berlari. Walau tak terlambat ke sekolah pun, Ayah lari. Lalu Ayah mengenal sepak bola. Olahraga yang di dalamnya pemain diharuskan untuk berlari. Ayah coba, lalu terpukau. Bukan karena bola, gawang, atau yang lain. Lari, Yah? Tebakku. Betul.
Jika kupikir-pikir Ayah terobsesi sekali dengan lari. Dia mengumpulkan guntingan-guntingan gambar pelari yang sedang melebarkan kakinya, menekuk siku, disertai kulit bercahaya mengkilap karena keringat. Ada pelari professional dengan seragam lengkap, ada pula pelari biasa yang sedang sprint atau sekedar jogging. Dari pria kurus berotot, kulit hitam, Cina, Jawa, wanita seksi, ibu-ibu gemuk, bapak tua, sampai anak TK yang lomba lari pun Ayah punya gambarnya. Semua sedang dalam posisi melangkah lebar dengan sedikit ayunan lompatan, berlari. Inilah posisi yang dicintai Ayah, tak sekedar melangkah, tapi lari.
Kesedihan
Sementara Ayah begitu cinta pada berlari, aku tak bisa berlari terlalu jauh ataupun terlalu cepat. Aku mudah lelah. Kata Ibu aku punya asma. Seringkali aku mencoba berlari seperti Ayah, dadaku sakit. Tarik napas sakit. Menghembuskan begitu juga rasanya. Terpaksa aku berhenti dan meneruskan hanya dengan berjalan. Tanpa ayunan lompatan yang sering Ayah ajarkan. Bola dengkul pun akhirnya lama tak aku mainkan.
Suatu hari, hari pertamaku di sekolah. Aku cukup menghebohkan sebagai anak Ayah. Ayah datang ke sekolah mengantarku. Beberapa anak kelas yang agak besar mulai melihat dan menunjuk-nunjuk ke arah kami ketika kami melewati gerbang sekolah. Lama-lama Ayah dikerubungi dan diajak foto bersama, juga dimintai tandatangan. Tentu saja aku bangga jadi anak Ayah.
Aku bercerita betapa pandainya Ayah berlari, juga bermain bola dengkul, dan segala yang menyenangkan bersama Ayah. Karena itulah aku punya banyak teman.
Kejadian
Suatu pagi, kutemukan Ayah tak ada. Ibu bilang Ayah pergi sebentar. Beberapa hari Ayah tak pulang, aku rindu pada Ayah.Setelah makan siang hujan turun, aku pamit pada Ibu untuk mandi hujan, kebiasaan anak-anak di kompleks tempat tinggalku. Hujan jarang sekali turun di kota ini. Jadi ketika hujan turun, kami bersukaria. Kami lomba lari sambil hujan-hujanan, main sepak bola, main bola dengkul.
Degg.
Sekelebat kurasakan kehadiran Ayah. Tap-e-tap-e-tapp. Langkah kaki Ayah. Aku kenal irama larinya. Irama aneh satu-satu yang tak putus. Tetapi tak dapat kutemukan Ayah. Aku pun lari pulang, walau lariku pelan, ingin bercerita pada Ibu dan bertanya apakah Ayah pulang. Di rumah Ibu sedang duduk di meja makan kami, menunduk, bahunya bergerak-gerak naik turun. Tiba-tiba aku dipeluk. Lama sekali.
Aku tidur seranjang dengan Ibu malam ini. Katanya Ibu kangen Ayah dan merasa lebih baik tidur denganku. Kami bercakap-cakap sebelum tidur. Sampai tertidur yang kuingat adalah suara Ibu yang tak henti bercerita pertemuannya dengan Ayah.
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku menunggu jemputan di depan pagar. Selama Ayah tak pulang, Ibu yang menjemputku. Hari ini terlambat sepertinya.
“Bakti, ada Ayahmu di koran. Nih”
Ayah memang sering ada di koran. Tapi sekarang sepertinya bukan urusan lari. Foto Ayah sebesar telapak tanganku sedang berlari dengan seragam sepakbolanya. Ayah sedang tertawa.
Aku sudah lancar membaca dan cukup megerti bahwa Ayah sedang berurusan dengan sesuatu yang bernama dopping. Aku tak pernah dengar nama itu. Di koran Ayah dibilang bandar. Apapula itu. Untung Ibu segera datang dan aku bisa bertanya tentang Ayah. Aku rindu sekali sama Ayah, Bu.
“Ibu, Ayah dimana sih?” Tak langsung menjawab, Ibu diam dan mengambil koran yang aku bawa. Mobil kami pun berjalan. Ibu menekan gas sembari menoleh.
“Ayah sedang dalam pelarian, nak.”
Ibuku memang pandai. Aku bisa tersenyum sekarang. Membayangkan Ayah sedang menikmati hidupnya. Pelarian. Yah, pikirku, pasti ada hubungannya dengan lari dan Ayah pasti senang. Kalau Ayah bahagia, akupun harus bahagia untuk Ayah.
Sambil tersenyum, aku ingin bertanya lebih lanjut tentang pemikiranku tadi: Bu, pelarian itu apa sih?, sampai kulihat Ibu menangis, bahunya naik turun.
04 November 2008
Zirbad (negeri bawah angin)
oleh: Pasudayantri
Gemulir air berdecak menggulir kuyup
Bisikan angin melambai kalbu
Riuh ombak basahi kagum
Bertanya pada bunda,
Apa arti segala kesejukan ini
Yang membasuhku dengan hangat dan penuh kasih
Mencinta aku akan keberadaanku
Menikmati segala rahasia keragaman
Kelembutan dari barat
Misteri dari selatan
Kesejukan dari timur
Kecantikan dari utara
Ingin rasanya memamerkan pada seluruh dunia
Fiktif?
Bukan! Inilah nyatanya
Di sinilah adanya
Hingga tiba Dia guyurkan usrek
Kebesaran datang dengan velositas yang tidak masuk akal
Meruntuhkan setaka anugerah keindahan
Sekelebat semua jatuh
Sekelebat semua hancur
Sekelebat semua musnah!
Mungkinkah ini suatu ancaman
Atau suatu peringatan?
Bagi mereka, para zindik
Yang menikmati keindahan sebuah tabu
Bagai xifoid yang menusuk dalam
Aku yakin semua akan kembali
Sebab hal itu sudah ada saat Olanda berkuasa
Raga akan mengangkat lengan
Membangun kembali satu demi satu
Menghadirkan yang telah lenyap
Menumbuhkan kenyamanan jiwa
Segalanya!
Ramah...
Tamah...
Sopan...
Santun...
Kembali decakkan air itu
Bisikkan sepoi angin damai
Riuhkan debur hempasan ombak
Negeri di bawah angin
Nusantaraku
Gemulir air berdecak menggulir kuyup
Bisikan angin melambai kalbu
Riuh ombak basahi kagum
Bertanya pada bunda,
Apa arti segala kesejukan ini
Yang membasuhku dengan hangat dan penuh kasih
Mencinta aku akan keberadaanku
Menikmati segala rahasia keragaman
Kelembutan dari barat
Misteri dari selatan
Kesejukan dari timur
Kecantikan dari utara
Ingin rasanya memamerkan pada seluruh dunia
Fiktif?
Bukan! Inilah nyatanya
Di sinilah adanya
Hingga tiba Dia guyurkan usrek
Kebesaran datang dengan velositas yang tidak masuk akal
Meruntuhkan setaka anugerah keindahan
Sekelebat semua jatuh
Sekelebat semua hancur
Sekelebat semua musnah!
Mungkinkah ini suatu ancaman
Atau suatu peringatan?
Bagi mereka, para zindik
Yang menikmati keindahan sebuah tabu
Bagai xifoid yang menusuk dalam
Aku yakin semua akan kembali
Sebab hal itu sudah ada saat Olanda berkuasa
Raga akan mengangkat lengan
Membangun kembali satu demi satu
Menghadirkan yang telah lenyap
Menumbuhkan kenyamanan jiwa
Segalanya!
Ramah...
Tamah...
Sopan...
Santun...
Kembali decakkan air itu
Bisikkan sepoi angin damai
Riuhkan debur hempasan ombak
Negeri di bawah angin
Nusantaraku
tentang:
karya,
pasudayantri,
prosa
03 November 2008
Indonesia Optimis
oleh: Morfosis
Indonesia optimis
Aku pesimis
Jika kamu masih terus memaksa
Aku tetap pesimis
Bukan karena Durga di mana-mana
Tapi karena biru langit yang meredup
Jiwa-jiwa suci terlahirlah
Mengendapkan redupan langit tadi
Hembuskan nafas baru
Menatap dunia bergairah
Dan sinarlah terang
Menjadi Indonesia
Negeri gelap dalam nurani kami
24 Februari 2008
Indonesia optimis
Aku pesimis
Jika kamu masih terus memaksa
Aku tetap pesimis
Bukan karena Durga di mana-mana
Tapi karena biru langit yang meredup
Jiwa-jiwa suci terlahirlah
Mengendapkan redupan langit tadi
Hembuskan nafas baru
Menatap dunia bergairah
Dan sinarlah terang
Menjadi Indonesia
Negeri gelap dalam nurani kami
24 Februari 2008
02 November 2008
Dari Roro Jonggrang
oleh: DF
Aku jatuh cinta
Pada Ramawijaya, yang memilih cintanya
Untuk tertuang di lembah dada Shinta.
Aku jatuh cinta,
Pada Ramawijaya, putra Ayodya
Buah cerita Walmiki
Suatu malam di Prambanan
Aku jatuh cinta...
Tak sudi menyerah pada Bandung Bondowoso
Satria angkuh!
Yang menghatur seribu candi untuk mas kawin.
Meski petaka menjadi karma.
Rama,
Rama,
Akankah kau kumpulkan kabut-kabut dan mandikan aku di bayang telaga nirmala?
Atau mengikrar pada Durga sumpah celaka?
Aku membatu pada bisumu.
Aku jatuh cinta
Pada Ramawijaya, yang memilih cintanya
Untuk tertuang di lembah dada Shinta.
Aku jatuh cinta,
Pada Ramawijaya, putra Ayodya
Buah cerita Walmiki
Suatu malam di Prambanan
Aku jatuh cinta...
Tak sudi menyerah pada Bandung Bondowoso
Satria angkuh!
Yang menghatur seribu candi untuk mas kawin.
Meski petaka menjadi karma.
Rama,
Rama,
Akankah kau kumpulkan kabut-kabut dan mandikan aku di bayang telaga nirmala?
Atau mengikrar pada Durga sumpah celaka?
Aku membatu pada bisumu.
Langganan:
Postingan (Atom)