oleh: goyang dombret
Inget-inget pemilu negeri Paman Sam, terakhir antara Obama-McCain di mana Obama terpilih untuk menjadi calon presiden Amerika yang berkulit hitam. Sejarah baru. Sebagai orang yang kadang-kadang suka baca koran ama majalah-hehe-saya dapat merasakan seperti apa ambience pada saat pemilu, mungkin ini salah satu preseden tentang pesta rakyat yang baik, bukan ngebahas sistemnya lho, ini tentang bagaimana masyarakat suatu negara begitu bergairah untuk menjagokan pilihannya masing-masing. Gimana masing-masing kubu dari partai demokrat dan partai? Begitu kekeuh untuk mempromosikan betapa mereka memang pantas untuk memimpin negara. Excitement dari tiap kubu maupun individu begitu terasa. Memang ini semua gak lepas dari peran media di AS, di mana media massa di sana kebanyakan mendukung Obama untuk menjadi presiden. Di AS media massa juga bebas menentukan sikapnya. Beberapa media massa di Indonesia juga kelihatannya pro-Obama.
Sebagai orang Indonesia, yang baru kali ini akan mencoblos untuk memilih calon pemimpin bangsa ini, saya merasa tidak terlalu peduli siapa yang menang, siapa dia dari partai mana si calon pemimpin itu. Rasanya tidak ada gairah tertentu untuk memilih seseorang. Apa mungkin saya saja ya?? Hehe.. Yah, mungkin juga karena belum pernah ada kampanye langsung dari caleg-caleg partai. Sekarang partai terasa begitu banyak. Bahkan nama-nama bakal calon presiden banyak yang terdengar, dari yang sudah dikenal, hingga yang tidak pernah dikenal. Di lain sisi, saya merasa miris karena seharusnya ini menjadi ajang kita untuk menentukan pilihan kita, menyuarakan suara kita, karena ternyata satu suara itu penting!!
Sekedar opini, selama ini proses kampanye caleg/capres banyak mengumbar janji dan saya begitu skeptis merasa itu hanya sekedar lip-service demi mendapatkan suara yang lebih dan lebih. Yang menarik, ada satu caleg dari suatu partai (untung saya lupa partai apa..hehe) dengan tagline “Jangan biarkan rakyat menderita, biar kami para pemimpin yang menderita”. Sekilas, kalimat ini berusaha untuk menimbulkan kesan simpati kepada rakyat kecil yang menderita. Tapi di lain sisi, saya merasa itu begitu dangkal, karena setahu saya ketika seorang individu menderita, individu tersebut akan kurang maksimal menjalankan aktivitasnya. Makinlah bertambah sentimen pribadi saya. Kembali kepada Obama-McCain, kedua calon tersebut berlomba-lomba untuk berbakti kepada rakyatnya, berusaha untuk menjadi ‘pahlawan’ di setiap hati para simpatisannya. Dan tentunya, sebelum sampai taraf ‘calon pemimpin besar’, mereka sudah mati-matian menunjukkan pengabdiannya kepada negara. Tapi apakah calon-calon pemimpin kita seperti itu?? Hmm, saya optimis Indonesia akan menjadi lebih baik. Setidaknya, saya belajar, di kehidupan sehari-hari saya harus menunjukkan kinerja saya yang paling baik, tidak hanya sekedar bicara. Teringat salah satu kata-kata seorang teman, “jangan selalu menuntut, jangan lupa untuk mengabdi”, sedikit mirip dengan kata-kata J.F. Kennedy, “Don’t ask what your country gives to you, but ask yourself what can you give to your country”. Terdengar dangkal, tapi memiliki makna daripada sekedar ‘dangkal’. Rasanya ingin punya calon-calon pemimpin seperti Obama dan McCain.
Inget-inget pemilu negeri Paman Sam, terakhir antara Obama-McCain di mana Obama terpilih untuk menjadi calon presiden Amerika yang berkulit hitam. Sejarah baru. Sebagai orang yang kadang-kadang suka baca koran ama majalah-hehe-saya dapat merasakan seperti apa ambience pada saat pemilu, mungkin ini salah satu preseden tentang pesta rakyat yang baik, bukan ngebahas sistemnya lho, ini tentang bagaimana masyarakat suatu negara begitu bergairah untuk menjagokan pilihannya masing-masing. Gimana masing-masing kubu dari partai demokrat dan partai? Begitu kekeuh untuk mempromosikan betapa mereka memang pantas untuk memimpin negara. Excitement dari tiap kubu maupun individu begitu terasa. Memang ini semua gak lepas dari peran media di AS, di mana media massa di sana kebanyakan mendukung Obama untuk menjadi presiden. Di AS media massa juga bebas menentukan sikapnya. Beberapa media massa di Indonesia juga kelihatannya pro-Obama.
Sebagai orang Indonesia, yang baru kali ini akan mencoblos untuk memilih calon pemimpin bangsa ini, saya merasa tidak terlalu peduli siapa yang menang, siapa dia dari partai mana si calon pemimpin itu. Rasanya tidak ada gairah tertentu untuk memilih seseorang. Apa mungkin saya saja ya?? Hehe.. Yah, mungkin juga karena belum pernah ada kampanye langsung dari caleg-caleg partai. Sekarang partai terasa begitu banyak. Bahkan nama-nama bakal calon presiden banyak yang terdengar, dari yang sudah dikenal, hingga yang tidak pernah dikenal. Di lain sisi, saya merasa miris karena seharusnya ini menjadi ajang kita untuk menentukan pilihan kita, menyuarakan suara kita, karena ternyata satu suara itu penting!!
Sekedar opini, selama ini proses kampanye caleg/capres banyak mengumbar janji dan saya begitu skeptis merasa itu hanya sekedar lip-service demi mendapatkan suara yang lebih dan lebih. Yang menarik, ada satu caleg dari suatu partai (untung saya lupa partai apa..hehe) dengan tagline “Jangan biarkan rakyat menderita, biar kami para pemimpin yang menderita”. Sekilas, kalimat ini berusaha untuk menimbulkan kesan simpati kepada rakyat kecil yang menderita. Tapi di lain sisi, saya merasa itu begitu dangkal, karena setahu saya ketika seorang individu menderita, individu tersebut akan kurang maksimal menjalankan aktivitasnya. Makinlah bertambah sentimen pribadi saya. Kembali kepada Obama-McCain, kedua calon tersebut berlomba-lomba untuk berbakti kepada rakyatnya, berusaha untuk menjadi ‘pahlawan’ di setiap hati para simpatisannya. Dan tentunya, sebelum sampai taraf ‘calon pemimpin besar’, mereka sudah mati-matian menunjukkan pengabdiannya kepada negara. Tapi apakah calon-calon pemimpin kita seperti itu?? Hmm, saya optimis Indonesia akan menjadi lebih baik. Setidaknya, saya belajar, di kehidupan sehari-hari saya harus menunjukkan kinerja saya yang paling baik, tidak hanya sekedar bicara. Teringat salah satu kata-kata seorang teman, “jangan selalu menuntut, jangan lupa untuk mengabdi”, sedikit mirip dengan kata-kata J.F. Kennedy, “Don’t ask what your country gives to you, but ask yourself what can you give to your country”. Terdengar dangkal, tapi memiliki makna daripada sekedar ‘dangkal’. Rasanya ingin punya calon-calon pemimpin seperti Obama dan McCain.
tidak ada calon yang kompeten+keinginan mengabdi
BalasHapus= kami tunggu:)