oleh: Sendari
Kebahagiaan
Ayah seorang pemain sepak bola. Tentu saja dia jago berlari. Larinya sangat kencang dan pandai mengoper bola serta mencetak gol. Ayah muncul di banyak majalah olahraga. Ayah diwawancara banyak stasiun televisi. Ayah sering dipotret. Ayah sering dikerumuni dan diminta tandatangannya. Ayah terkenal.
Di rumah sangat banyak piala yang Ayah punya. Satu lemari penuh ditambah sejumlah kertas penghargaan yang dibingkai rapi, tersebar di dinding rumah. Ayah selalu bersama aku dan Ibu di akhir pekan. Ayah mengajariku berlari dan bermain bola dengkul. Bola dengkul adalah permainan menjaga bola agar tidak memantul ke tanah dengan memantulkannya ke anggota tubuh, salah satunya dengkul.
Hidup Ayah itu berlari, nak. Tuturnya padaku suatu malam. Dari kecil Ayah sudah berlari. Waktu SD Ayah juara lari. Ayah pernah beramai-ramai mencuri mangga di Abah Ilham, ketahuan, lalu lari. Ayah senang berlari. Walau tak terlambat ke sekolah pun, Ayah lari. Lalu Ayah mengenal sepak bola. Olahraga yang di dalamnya pemain diharuskan untuk berlari. Ayah coba, lalu terpukau. Bukan karena bola, gawang, atau yang lain. Lari, Yah? Tebakku. Betul.
Jika kupikir-pikir Ayah terobsesi sekali dengan lari. Dia mengumpulkan guntingan-guntingan gambar pelari yang sedang melebarkan kakinya, menekuk siku, disertai kulit bercahaya mengkilap karena keringat. Ada pelari professional dengan seragam lengkap, ada pula pelari biasa yang sedang sprint atau sekedar jogging. Dari pria kurus berotot, kulit hitam, Cina, Jawa, wanita seksi, ibu-ibu gemuk, bapak tua, sampai anak TK yang lomba lari pun Ayah punya gambarnya. Semua sedang dalam posisi melangkah lebar dengan sedikit ayunan lompatan, berlari. Inilah posisi yang dicintai Ayah, tak sekedar melangkah, tapi lari.
Kesedihan
Sementara Ayah begitu cinta pada berlari, aku tak bisa berlari terlalu jauh ataupun terlalu cepat. Aku mudah lelah. Kata Ibu aku punya asma. Seringkali aku mencoba berlari seperti Ayah, dadaku sakit. Tarik napas sakit. Menghembuskan begitu juga rasanya. Terpaksa aku berhenti dan meneruskan hanya dengan berjalan. Tanpa ayunan lompatan yang sering Ayah ajarkan. Bola dengkul pun akhirnya lama tak aku mainkan.
Suatu hari, hari pertamaku di sekolah. Aku cukup menghebohkan sebagai anak Ayah. Ayah datang ke sekolah mengantarku. Beberapa anak kelas yang agak besar mulai melihat dan menunjuk-nunjuk ke arah kami ketika kami melewati gerbang sekolah. Lama-lama Ayah dikerubungi dan diajak foto bersama, juga dimintai tandatangan. Tentu saja aku bangga jadi anak Ayah.
Aku bercerita betapa pandainya Ayah berlari, juga bermain bola dengkul, dan segala yang menyenangkan bersama Ayah. Karena itulah aku punya banyak teman.
Kejadian
Suatu pagi, kutemukan Ayah tak ada. Ibu bilang Ayah pergi sebentar. Beberapa hari Ayah tak pulang, aku rindu pada Ayah.Setelah makan siang hujan turun, aku pamit pada Ibu untuk mandi hujan, kebiasaan anak-anak di kompleks tempat tinggalku. Hujan jarang sekali turun di kota ini. Jadi ketika hujan turun, kami bersukaria. Kami lomba lari sambil hujan-hujanan, main sepak bola, main bola dengkul.
Degg.
Sekelebat kurasakan kehadiran Ayah. Tap-e-tap-e-tapp. Langkah kaki Ayah. Aku kenal irama larinya. Irama aneh satu-satu yang tak putus. Tetapi tak dapat kutemukan Ayah. Aku pun lari pulang, walau lariku pelan, ingin bercerita pada Ibu dan bertanya apakah Ayah pulang. Di rumah Ibu sedang duduk di meja makan kami, menunduk, bahunya bergerak-gerak naik turun. Tiba-tiba aku dipeluk. Lama sekali.
Aku tidur seranjang dengan Ibu malam ini. Katanya Ibu kangen Ayah dan merasa lebih baik tidur denganku. Kami bercakap-cakap sebelum tidur. Sampai tertidur yang kuingat adalah suara Ibu yang tak henti bercerita pertemuannya dengan Ayah.
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku menunggu jemputan di depan pagar. Selama Ayah tak pulang, Ibu yang menjemputku. Hari ini terlambat sepertinya.
“Bakti, ada Ayahmu di koran. Nih”
Ayah memang sering ada di koran. Tapi sekarang sepertinya bukan urusan lari. Foto Ayah sebesar telapak tanganku sedang berlari dengan seragam sepakbolanya. Ayah sedang tertawa.
Aku sudah lancar membaca dan cukup megerti bahwa Ayah sedang berurusan dengan sesuatu yang bernama dopping. Aku tak pernah dengar nama itu. Di koran Ayah dibilang bandar. Apapula itu. Untung Ibu segera datang dan aku bisa bertanya tentang Ayah. Aku rindu sekali sama Ayah, Bu.
“Ibu, Ayah dimana sih?” Tak langsung menjawab, Ibu diam dan mengambil koran yang aku bawa. Mobil kami pun berjalan. Ibu menekan gas sembari menoleh.
“Ayah sedang dalam pelarian, nak.”
Ibuku memang pandai. Aku bisa tersenyum sekarang. Membayangkan Ayah sedang menikmati hidupnya. Pelarian. Yah, pikirku, pasti ada hubungannya dengan lari dan Ayah pasti senang. Kalau Ayah bahagia, akupun harus bahagia untuk Ayah.
Sambil tersenyum, aku ingin bertanya lebih lanjut tentang pemikiranku tadi: Bu, pelarian itu apa sih?, sampai kulihat Ibu menangis, bahunya naik turun.
Kebahagiaan
Ayah seorang pemain sepak bola. Tentu saja dia jago berlari. Larinya sangat kencang dan pandai mengoper bola serta mencetak gol. Ayah muncul di banyak majalah olahraga. Ayah diwawancara banyak stasiun televisi. Ayah sering dipotret. Ayah sering dikerumuni dan diminta tandatangannya. Ayah terkenal.
Di rumah sangat banyak piala yang Ayah punya. Satu lemari penuh ditambah sejumlah kertas penghargaan yang dibingkai rapi, tersebar di dinding rumah. Ayah selalu bersama aku dan Ibu di akhir pekan. Ayah mengajariku berlari dan bermain bola dengkul. Bola dengkul adalah permainan menjaga bola agar tidak memantul ke tanah dengan memantulkannya ke anggota tubuh, salah satunya dengkul.
Hidup Ayah itu berlari, nak. Tuturnya padaku suatu malam. Dari kecil Ayah sudah berlari. Waktu SD Ayah juara lari. Ayah pernah beramai-ramai mencuri mangga di Abah Ilham, ketahuan, lalu lari. Ayah senang berlari. Walau tak terlambat ke sekolah pun, Ayah lari. Lalu Ayah mengenal sepak bola. Olahraga yang di dalamnya pemain diharuskan untuk berlari. Ayah coba, lalu terpukau. Bukan karena bola, gawang, atau yang lain. Lari, Yah? Tebakku. Betul.
Jika kupikir-pikir Ayah terobsesi sekali dengan lari. Dia mengumpulkan guntingan-guntingan gambar pelari yang sedang melebarkan kakinya, menekuk siku, disertai kulit bercahaya mengkilap karena keringat. Ada pelari professional dengan seragam lengkap, ada pula pelari biasa yang sedang sprint atau sekedar jogging. Dari pria kurus berotot, kulit hitam, Cina, Jawa, wanita seksi, ibu-ibu gemuk, bapak tua, sampai anak TK yang lomba lari pun Ayah punya gambarnya. Semua sedang dalam posisi melangkah lebar dengan sedikit ayunan lompatan, berlari. Inilah posisi yang dicintai Ayah, tak sekedar melangkah, tapi lari.
Kesedihan
Sementara Ayah begitu cinta pada berlari, aku tak bisa berlari terlalu jauh ataupun terlalu cepat. Aku mudah lelah. Kata Ibu aku punya asma. Seringkali aku mencoba berlari seperti Ayah, dadaku sakit. Tarik napas sakit. Menghembuskan begitu juga rasanya. Terpaksa aku berhenti dan meneruskan hanya dengan berjalan. Tanpa ayunan lompatan yang sering Ayah ajarkan. Bola dengkul pun akhirnya lama tak aku mainkan.
Suatu hari, hari pertamaku di sekolah. Aku cukup menghebohkan sebagai anak Ayah. Ayah datang ke sekolah mengantarku. Beberapa anak kelas yang agak besar mulai melihat dan menunjuk-nunjuk ke arah kami ketika kami melewati gerbang sekolah. Lama-lama Ayah dikerubungi dan diajak foto bersama, juga dimintai tandatangan. Tentu saja aku bangga jadi anak Ayah.
Aku bercerita betapa pandainya Ayah berlari, juga bermain bola dengkul, dan segala yang menyenangkan bersama Ayah. Karena itulah aku punya banyak teman.
Kejadian
Suatu pagi, kutemukan Ayah tak ada. Ibu bilang Ayah pergi sebentar. Beberapa hari Ayah tak pulang, aku rindu pada Ayah.Setelah makan siang hujan turun, aku pamit pada Ibu untuk mandi hujan, kebiasaan anak-anak di kompleks tempat tinggalku. Hujan jarang sekali turun di kota ini. Jadi ketika hujan turun, kami bersukaria. Kami lomba lari sambil hujan-hujanan, main sepak bola, main bola dengkul.
Degg.
Sekelebat kurasakan kehadiran Ayah. Tap-e-tap-e-tapp. Langkah kaki Ayah. Aku kenal irama larinya. Irama aneh satu-satu yang tak putus. Tetapi tak dapat kutemukan Ayah. Aku pun lari pulang, walau lariku pelan, ingin bercerita pada Ibu dan bertanya apakah Ayah pulang. Di rumah Ibu sedang duduk di meja makan kami, menunduk, bahunya bergerak-gerak naik turun. Tiba-tiba aku dipeluk. Lama sekali.
Aku tidur seranjang dengan Ibu malam ini. Katanya Ibu kangen Ayah dan merasa lebih baik tidur denganku. Kami bercakap-cakap sebelum tidur. Sampai tertidur yang kuingat adalah suara Ibu yang tak henti bercerita pertemuannya dengan Ayah.
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku menunggu jemputan di depan pagar. Selama Ayah tak pulang, Ibu yang menjemputku. Hari ini terlambat sepertinya.
“Bakti, ada Ayahmu di koran. Nih”
Ayah memang sering ada di koran. Tapi sekarang sepertinya bukan urusan lari. Foto Ayah sebesar telapak tanganku sedang berlari dengan seragam sepakbolanya. Ayah sedang tertawa.
Aku sudah lancar membaca dan cukup megerti bahwa Ayah sedang berurusan dengan sesuatu yang bernama dopping. Aku tak pernah dengar nama itu. Di koran Ayah dibilang bandar. Apapula itu. Untung Ibu segera datang dan aku bisa bertanya tentang Ayah. Aku rindu sekali sama Ayah, Bu.
“Ibu, Ayah dimana sih?” Tak langsung menjawab, Ibu diam dan mengambil koran yang aku bawa. Mobil kami pun berjalan. Ibu menekan gas sembari menoleh.
“Ayah sedang dalam pelarian, nak.”
Ibuku memang pandai. Aku bisa tersenyum sekarang. Membayangkan Ayah sedang menikmati hidupnya. Pelarian. Yah, pikirku, pasti ada hubungannya dengan lari dan Ayah pasti senang. Kalau Ayah bahagia, akupun harus bahagia untuk Ayah.
Sambil tersenyum, aku ingin bertanya lebih lanjut tentang pemikiranku tadi: Bu, pelarian itu apa sih?, sampai kulihat Ibu menangis, bahunya naik turun.
sendari,,
BalasHapussedih sekali,,kangen ayah jdnya
kadang ketidaktahuan justru menjadi lebih menyenangkan..
BalasHapushumm, tidak begini akhir yang seharusnya ya, kurang bahagia,,ehehe.
BalasHapusnice..^^
BalasHapus