09 November 2008

Siapa yang Gila?!

oleh: kopi biasa


Meringkuk aku di ujung separator
Di bawah lampu jalan warna kuning
Ini siang atau malam ya?
Bagiku sama saja...
Semua orang menghindar saat melihatku,
Sebagian tertawa terkikik
Sebagian melempariku batu
Tapi paling sering mengerenyit
Jijik! katanya...

Kadang aku berpikir sampai-sampai tak bisa menahan tawa
Seperti orang gila saja
mengapa mereka mengingkari hatinya sendiri?
Aku tau mereka iri
Hanya malu-malu mengakui...

Pasti tidak ada yg berani tidur-tiduran di separator jalan seperti aku...
Apalagi dalam keadaan jujur pada tubuhku sendiri..

tanpa ditutup-tutupi...

Hahahaha
Aku yakin kamu iri!!!

08 November 2008

Kapan ya pemilu di Indonesia bisa kayak pemilu Obama-McCain?

oleh: goyang dombret


Inget-inget pemilu negeri Paman Sam, terakhir antara Obama-McCain di mana Obama terpilih untuk menjadi calon presiden Amerika yang berkulit hitam. Sejarah baru. Sebagai orang yang kadang-kadang suka baca koran ama majalah-hehe-saya dapat merasakan seperti apa ambience pada saat pemilu, mungkin ini salah satu preseden tentang pesta rakyat yang baik, bukan ngebahas sistemnya lho, ini tentang bagaimana masyarakat suatu negara begitu bergairah untuk menjagokan pilihannya masing-masing. Gimana masing-masing kubu dari partai demokrat dan partai? Begitu kekeuh untuk mempromosikan betapa mereka memang pantas untuk memimpin negara. Excitement dari tiap kubu maupun individu begitu terasa. Memang ini semua gak lepas dari peran media di AS, di mana media massa di sana kebanyakan mendukung Obama untuk menjadi presiden. Di AS media massa juga bebas menentukan sikapnya. Beberapa media massa di Indonesia juga kelihatannya pro-Obama.

Sebagai orang Indonesia, yang baru kali ini akan mencoblos untuk memilih calon pemimpin bangsa ini, saya merasa tidak terlalu peduli siapa yang menang, siapa dia dari partai mana si calon pemimpin itu. Rasanya tidak ada gairah tertentu untuk memilih seseorang. Apa mungkin saya saja ya?? Hehe.. Yah, mungkin juga karena belum pernah ada kampanye langsung dari caleg-caleg partai. Sekarang partai terasa begitu banyak. Bahkan nama-nama bakal calon presiden banyak yang terdengar, dari yang sudah dikenal, hingga yang tidak pernah dikenal. Di lain sisi, saya merasa miris karena seharusnya ini menjadi ajang kita untuk menentukan pilihan kita, menyuarakan suara kita, karena ternyata satu suara itu penting!!

Sekedar opini, selama ini proses kampanye caleg/capres banyak mengumbar janji dan saya begitu skeptis merasa itu hanya sekedar lip-service demi mendapatkan suara yang lebih dan lebih. Yang menarik, ada satu caleg dari suatu partai (untung saya lupa partai apa..hehe) dengan tagline “Jangan biarkan rakyat menderita, biar kami para pemimpin yang menderita”. Sekilas, kalimat ini berusaha untuk menimbulkan kesan simpati kepada rakyat kecil yang menderita. Tapi di lain sisi, saya merasa itu begitu dangkal, karena setahu saya ketika seorang individu menderita, individu tersebut akan kurang maksimal menjalankan aktivitasnya. Makinlah bertambah sentimen pribadi saya. Kembali kepada Obama-McCain, kedua calon tersebut berlomba-lomba untuk berbakti kepada rakyatnya, berusaha untuk menjadi ‘pahlawan’ di setiap hati para simpatisannya. Dan tentunya, sebelum sampai taraf ‘calon pemimpin besar’, mereka sudah mati-matian menunjukkan pengabdiannya kepada negara. Tapi apakah calon-calon pemimpin kita seperti itu?? Hmm, saya optimis Indonesia akan menjadi lebih baik. Setidaknya, saya belajar, di kehidupan sehari-hari saya harus menunjukkan kinerja saya yang paling baik, tidak hanya sekedar bicara. Teringat salah satu kata-kata seorang teman, “jangan selalu menuntut, jangan lupa untuk mengabdi”, sedikit mirip dengan kata-kata J.F. Kennedy, “Don’t ask what your country gives to you, but ask yourself what can you give to your country”. Terdengar dangkal, tapi memiliki makna daripada sekedar ‘dangkal’. Rasanya ingin punya calon-calon pemimpin seperti Obama dan McCain.

06 November 2008

Langkah-Langkahmu

oleh: Morfosis kecil


Inilah langkah keseratus
Tempatmu berhenti sejenak
Beristirahat
Sambil menatap jejakmu
Di belakang

Inilah langkah keseratus
Keseluruhan mimpi belum terlihat
Belum jelas
Tapi semua merasakan
Kesungguhan

Inilah langkah keseratus
Tertawa-tawa aku bersamamu
Menertawakanmu
Sekedar terlarut mengingat
Mengenang

Inilah langkah keseratus
Hanya sampai di sini aku mampu
Menemanimu
Mengiringimu dengan senyuman
Diam-diam berharap

Inilah langkah keseratus
Kita tidak di sini ’tuk berhenti
Ayunan kaki menggapai
Menapaki mimpi-mimpi

Kawan,
Inilah langkah keseratus
Milikmu
Hanya milikmu

05 November 2008

Ayah

oleh: Sendari


Kebahagiaan
Ayah seorang pemain sepak bola. Tentu saja dia jago berlari. Larinya sangat kencang dan pandai mengoper bola serta mencetak gol. Ayah muncul di banyak majalah olahraga. Ayah diwawancara banyak stasiun televisi. Ayah sering dipotret. Ayah sering dikerumuni dan diminta tandatangannya. Ayah terkenal.
Di rumah sangat banyak piala yang Ayah punya. Satu lemari penuh ditambah sejumlah kertas penghargaan yang dibingkai rapi, tersebar di dinding rumah. Ayah selalu bersama aku dan Ibu di akhir pekan. Ayah mengajariku berlari dan bermain bola dengkul. Bola dengkul adalah permainan menjaga bola agar tidak memantul ke tanah dengan memantulkannya ke anggota tubuh, salah satunya dengkul.
Hidup Ayah itu berlari, nak. Tuturnya padaku suatu malam. Dari kecil Ayah sudah berlari. Waktu SD Ayah juara lari. Ayah pernah beramai-ramai mencuri mangga di Abah Ilham, ketahuan, lalu lari. Ayah senang berlari. Walau tak terlambat ke sekolah pun, Ayah lari. Lalu Ayah mengenal sepak bola. Olahraga yang di dalamnya pemain diharuskan untuk berlari. Ayah coba, lalu terpukau. Bukan karena bola, gawang, atau yang lain. Lari, Yah? Tebakku. Betul.
Jika kupikir-pikir Ayah terobsesi sekali dengan lari. Dia mengumpulkan guntingan-guntingan gambar pelari yang sedang melebarkan kakinya, menekuk siku, disertai kulit bercahaya mengkilap karena keringat. Ada pelari professional dengan seragam lengkap, ada pula pelari biasa yang sedang sprint atau sekedar jogging. Dari pria kurus berotot, kulit hitam, Cina, Jawa, wanita seksi, ibu-ibu gemuk, bapak tua, sampai anak TK yang lomba lari pun Ayah punya gambarnya. Semua sedang dalam posisi melangkah lebar dengan sedikit ayunan lompatan, berlari. Inilah posisi yang dicintai Ayah, tak sekedar melangkah, tapi lari.

Kesedihan
Sementara Ayah begitu cinta pada berlari, aku tak bisa berlari terlalu jauh ataupun terlalu cepat. Aku mudah lelah. Kata Ibu aku punya asma. Seringkali aku mencoba berlari seperti Ayah, dadaku sakit. Tarik napas sakit. Menghembuskan begitu juga rasanya. Terpaksa aku berhenti dan meneruskan hanya dengan berjalan. Tanpa ayunan lompatan yang sering Ayah ajarkan. Bola dengkul pun akhirnya lama tak aku mainkan.
Suatu hari, hari pertamaku di sekolah. Aku cukup menghebohkan sebagai anak Ayah. Ayah datang ke sekolah mengantarku. Beberapa anak kelas yang agak besar mulai melihat dan menunjuk-nunjuk ke arah kami ketika kami melewati gerbang sekolah. Lama-lama Ayah dikerubungi dan diajak foto bersama, juga dimintai tandatangan. Tentu saja aku bangga jadi anak Ayah.
Aku bercerita betapa pandainya Ayah berlari, juga bermain bola dengkul, dan segala yang menyenangkan bersama Ayah. Karena itulah aku punya banyak teman.

Kejadian
Suatu pagi, kutemukan Ayah tak ada. Ibu bilang Ayah pergi sebentar. Beberapa hari Ayah tak pulang, aku rindu pada Ayah.Setelah makan siang hujan turun, aku pamit pada Ibu untuk mandi hujan, kebiasaan anak-anak di kompleks tempat tinggalku. Hujan jarang sekali turun di kota ini. Jadi ketika hujan turun, kami bersukaria. Kami lomba lari sambil hujan-hujanan, main sepak bola, main bola dengkul.
Degg.
Sekelebat kurasakan kehadiran Ayah. Tap-e-tap-e-tapp. Langkah kaki Ayah. Aku kenal irama larinya. Irama aneh satu-satu yang tak putus. Tetapi tak dapat kutemukan Ayah. Aku pun lari pulang, walau lariku pelan, ingin bercerita pada Ibu dan bertanya apakah Ayah pulang. Di rumah Ibu sedang duduk di meja makan kami, menunduk, bahunya bergerak-gerak naik turun. Tiba-tiba aku dipeluk. Lama sekali.
Aku tidur seranjang dengan Ibu malam ini. Katanya Ibu kangen Ayah dan merasa lebih baik tidur denganku. Kami bercakap-cakap sebelum tidur. Sampai tertidur yang kuingat adalah suara Ibu yang tak henti bercerita pertemuannya dengan Ayah.
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku menunggu jemputan di depan pagar. Selama Ayah tak pulang, Ibu yang menjemputku. Hari ini terlambat sepertinya.
“Bakti, ada Ayahmu di koran. Nih”
Ayah memang sering ada di koran. Tapi sekarang sepertinya bukan urusan lari. Foto Ayah sebesar telapak tanganku sedang berlari dengan seragam sepakbolanya. Ayah sedang tertawa.
Aku sudah lancar membaca dan cukup megerti bahwa Ayah sedang berurusan dengan sesuatu yang bernama dopping. Aku tak pernah dengar nama itu. Di koran Ayah dibilang bandar. Apapula itu. Untung Ibu segera datang dan aku bisa bertanya tentang Ayah. Aku rindu sekali sama Ayah, Bu.
“Ibu, Ayah dimana sih?” Tak langsung menjawab, Ibu diam dan mengambil koran yang aku bawa. Mobil kami pun berjalan. Ibu menekan gas sembari menoleh.
“Ayah sedang dalam pelarian, nak.”
Ibuku memang pandai. Aku bisa tersenyum sekarang. Membayangkan Ayah sedang menikmati hidupnya. Pelarian. Yah, pikirku, pasti ada hubungannya dengan lari dan Ayah pasti senang. Kalau Ayah bahagia, akupun harus bahagia untuk Ayah.
Sambil tersenyum, aku ingin bertanya lebih lanjut tentang pemikiranku tadi: Bu, pelarian itu apa sih?, sampai kulihat Ibu menangis, bahunya naik turun.

04 November 2008

Zirbad (negeri bawah angin)

oleh: Pasudayantri


Gemulir air berdecak menggulir kuyup
Bisikan angin melambai kalbu
Riuh ombak basahi kagum

Bertanya pada bunda,
Apa arti segala kesejukan ini
Yang membasuhku dengan hangat dan penuh kasih

Mencinta aku akan keberadaanku
Menikmati segala rahasia keragaman

Kelembutan dari barat
Misteri dari selatan
Kesejukan dari timur
Kecantikan dari utara

Ingin rasanya memamerkan pada seluruh dunia
Fiktif?
Bukan! Inilah nyatanya
Di sinilah adanya

Hingga tiba Dia guyurkan usrek
Kebesaran datang dengan velositas yang tidak masuk akal
Meruntuhkan setaka anugerah keindahan

Sekelebat semua jatuh
Sekelebat semua hancur
Sekelebat semua musnah!

Mungkinkah ini suatu ancaman
Atau suatu peringatan?
Bagi mereka, para zindik
Yang menikmati keindahan sebuah tabu
Bagai xifoid yang menusuk dalam

Aku yakin semua akan kembali
Sebab hal itu sudah ada saat Olanda berkuasa

Raga akan mengangkat lengan
Membangun kembali satu demi satu
Menghadirkan yang telah lenyap
Menumbuhkan kenyamanan jiwa
Segalanya!

Ramah...
Tamah...
Sopan...
Santun...

Kembali decakkan air itu
Bisikkan sepoi angin damai
Riuhkan debur hempasan ombak
Negeri di bawah angin
Nusantaraku

03 November 2008

Indonesia Optimis

oleh: Morfosis


Indonesia optimis
Aku pesimis
Jika kamu masih terus memaksa
Aku tetap pesimis

Bukan karena Durga di mana-mana
Tapi karena biru langit yang meredup
Jiwa-jiwa suci terlahirlah
Mengendapkan redupan langit tadi

Hembuskan nafas baru
Menatap dunia bergairah
Dan sinarlah terang

Menjadi Indonesia
Negeri gelap dalam nurani kami

24 Februari 2008

02 November 2008

Dari Roro Jonggrang

oleh: DF


Aku jatuh cinta
Pada Ramawijaya, yang memilih cintanya
Untuk tertuang di lembah dada Shinta.

Aku jatuh cinta,
Pada Ramawijaya, putra Ayodya
Buah cerita Walmiki
Suatu malam di Prambanan

Aku jatuh cinta...
Tak sudi menyerah pada Bandung Bondowoso
Satria angkuh!
Yang menghatur seribu candi untuk mas kawin.
Meski petaka menjadi karma.

Rama,
Rama,
Akankah kau kumpulkan kabut-kabut dan mandikan aku di bayang telaga nirmala?
Atau mengikrar pada Durga sumpah celaka?

Aku membatu pada bisumu.