oleh: wndprtm
Ketika mata ingin melihat, hati menyuruhnya tetap tertutup tenang
Ketika telinga ingin mendengar, otak menyuruhnya tuli sejenak
Ketika tangan ingin menggapai, tulang belakang berteriak menyuruhnya tetap diam
Sesekali, sang hati ingin menggapainya dan memeluknya erat hingga tak membiarkannya pergi;
Sang jemari ingin memegang tangannya dan membawanya pulang;
Sang tangan ingin menyusuri rambutnya hingga turun ke bumi dan menghapus sang air yang turun basah deras dari kelopak matanya;
Tapi sebuah bait kata "DIAM dan INGAT" dari sang otak membisukan semua gerakan yang akan terjadi.
Salah pepatah lama menyebutkan organ adalah satu.
Mungkin lebih tepatnya satu kesatuan, tetapi tidak dengan satu intuisi.
Akhirnya semua tetap tunduk kepada otak sang penguasa tubuh.
Semua memang diam, semua memang membatu dan melupakan intuisinya masing-masing.
Namun setelahnya masih tersisa seonggok dari sang kelopak mata. Setelah apa yang dilakukan sang otak, kelopak mata tidak dapat menahan gejolaknya keluar.
Pada awalnya memang sedikit dan perlahan bagai embun pagi pada dedaunan.
Namun semakin lama semakin tak tertahankan, bagai badai hujan, airnya deras mengalir menuruni liukan sang pipi dan gelombang bibir.
Basah? memang. Tetapi sang otak tetap mengering mengerontang. Akhirnya sang penguasa luluh lemas tak berdaya.
Dan akhirnya sekumpulkan intuisi tadi hanya menyisakan penyesalan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
mungkin kebanyakan orang bakal menuliskan hal itu dengan cengeng dan bertele-tele.
BalasHapustapi disini hal itu terdengar indah...
g ah!
BalasHapustetep aja kedengerannya cengeng.
emang kenapa kalo cengeng?
BalasHapusdosa.
BalasHapushaha